"Penyuluh, Jantung Pembangunan Pertanian”

Semangat kebersamaan dan rasa syukur mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun ke-38 Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) yang digelar oleh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Perhiptani Bali di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Denpasar Utara Jumat, 11 Juli 2025.

Aug 17, 2025 - 04:47
Aug 17, 2025 - 06:37
 0  9
"Penyuluh, Jantung Pembangunan Pertanian”

"Penyuluh, Jantung Pembangunan Pertanian”

Di perayaan ulang tahun ke-38 Perhiptani. Tidak ada panggung mewah. Tidak ada kembang api. Hanya potong tumpeng. Tapi dari situlah justru terasa kekuatan yang selama ini jarangtampak di permukaan penyuluh.

Semangat kebersamaan dan rasa syukur mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun ke-38 Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) yang digelar oleh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Perhiptani Bali di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Denpasar Utara Jumat, 11 Juli 2025.

Dalam suasana hangat dan sederhana, para penyuluh dari berbagai penjuru Bali berkumpul, berbagi cerita, dan mengenang perjalanan panjang organisasi yang selama hampir empat dekade telah mendampingi petani dalam mengembangkan pertanian yang lebih maju dan mandiri.

Acara dibuka oleh Ketua DPW Perhiptani Bali, Dr. Ir. I Wayan Alit Artha Wiguna, M.Si., yang menyampaikan rasa bangganya terhadap dedikasi para penyuluh. "Penyuluh adalah jantung pembangunan pertanian. Kita hadir bukan hanya sebagai penggerak, tapi juga sebagai sahabat para petani dalam setiap musim tanam, dalam suka dan duka," tuturnya penuh haru.

Dr. Alit, menekankan pentingnya menjalin komunikasi yang kuat dalam organisasi profesi penyuluhan pertanian. Ia menegaskan bahwa organisasi ini tidak akan pernah punah, selama penyuluh terus menjalankan tugas dan perannya secara profesional bersama Perhiptani.

Peran penyuluh pertanian tidak akan pernah surut dalam membangun sektor pertanian yang menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat. Nilai-nilai lokal wisdom atau kearifan lokal tetap menjadi fondasi utama dalam menjalankan penyuluhan, karena nilai sosial dan identitas budaya adalah hal yang tidak boleh diabaikan atau hilang begitu saja.

Di tengah tantangan globalisasi, peran pertanian, terutama dalam konteks subak sebagai warisan budaya dan sistem pertanian tradisional Bali, masih sangat penting. Oleh karena itu, subak harus dikawinkan secara harmonis dengan perkembangan zaman agar mampu bertahan dan terus berkembang sebagai kekuatan ekonomi sekaligus pelestarian budaya.

Dengan semangat inilah, Dr. I Wayan Alit Artha Wiguna mengajak seluruh penyuluh dan stakeholder terkait untuk terus bergerak bersama menjaga eksistensi dan peran strategis pertanian Bali, demi kemajuan pertanian yang berkelanjutan dan berwawasan sosial budaya.

Puncak perayaan ditandai dengan prosesi potong tumpeng—simbol rasa syukur atas perjalanan panjang dan doa untuk masa depan yang lebih cerah. Meski tanpa kemeriahan pesta besar, setiap detik kebersamaan hari itu terasa penuh makna.

Tak hanya potong tumpeng, rangkaian peringatan HUT ke-38 ini juga akan diisi dengan berbagai kegiatan inspiratif, seperti Lomba Penyuluh Pertanian Berprestasi, Gerakan Tanam Padi Serentak di seluruh kabupaten/kota di Bali, dan Bakti Sosial kepada masyarakat.

Semua kegiatan ini mencerminkan semangat solidaritas dan pengabdian yang menjadi napas Perhiptani menyatu dengan petani, menyatu dengan tanah, menyatu dengan masa depan pertanian Indonesia.

Dengan semangat HUT ke-38, DPW Perhiptani Bali terus melangkah maju mendampingi petani, menguatkan ketahanan pangan, dan mewujudkan pertanian Bali yang modern namun tetap membumi.

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0