Petani Jadi Demonstrator, Penyuluh Sebagai Penopang
Subak Meliling masih menjadi obrolan hangat. Di banyak tempat, pekaseh sebatas pengatur air. Membagi giliran tanam. Menyelesaikan masalah antar-anggota subak. Tapi di Subak Meliling, Kerambitan, Tabanan, perannya lebih dari itu. Pekaseh naik kelas menjadi demonstrator. Dan penyuluh hadir sebagai penopang.
Petani Jadi Demonstrator, Penyuluh Sebagai Penopang
Subak Meliling masih menjadi obrolan hangat. Di banyak tempat, pekaseh sebatas pengatur air. Membagi giliran tanam. Menyelesaikan masalah antar-anggota subak. Tapi di Subak Meliling, Kerambitan, Tabanan, perannya lebih dari itu. Pekaseh naik kelas menjadi demonstrator. Dan penyuluh hadir sebagai penopang.
Dua peran ini yang membuat petani tidak lagi berjalan dalam gelap. Inovasi menjadi terang. Harapan menjadi nyata.
Petani menunjukkan keberanian untuk mencoba. Penyuluh memastikan langkah itu tidak tersesat. Satu menjadi contoh, satu menjadi pendamping setia. Dan di Subak Meliling, dua peran itu berpadu melahirkan bukti bahwa inovasi pertanian tak lahir dari seminar tapi dari sawah yang digarap dengan hati dan ilmu.
Terkonfimasi, Ketua Harian Perhiptani Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb., menegaskan bahwa kerja sama pengembangan teknologi pertanian dengan label “Agri Tani”, tidak hanya dilakukan dengan Greenway. Program serupa juga akan digarap bersama Pupuk Indonesia di beberapa wilayah strategis.
“Selain di Subak Meliling, Tabanan, kami juga akan melaksanakan demplot di Kabupaten Gianyar, tepatnya di Desa Sukawati, Blahbatuh, dan Bona. Sedangkan di Kabupaten Klungkung, kegiatan serupa berjalan di Desa Tihingan, Kecamatan Banjarangkan,” ujar Arya Sudiadnyana.
Menurutnya, upaya kolaborasi ini menjadi langkah nyata Perhiptani Bali dalam mempercepat adopsi teknologi pertanian ramah lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas petani di berbagai daerah.
Suara Petani
I Made Sukerta Pekaseh subak yang disegani turun langsung jadi demonstrator. Ia menggarap seperempat hektare lahan dengan pola baru, pupuk organik padat suplement dan POC Greenway. Bukan sekadar coba-coba. Tapi bukti, bahwa pekaseh pun berani jadi contoh bagi kerama subak yang dipimpinnya.
Di sebelahnya, ada I Made Widana. Petani senior. Lahan yang sama luasnya, 0,5 hektare, tetap dikelola dengan cara konvensional. Tradisional. Inilah panggung perbandingan paling jujur, dua petani, dua jalan, satu subak.
Sukerta antusias. Hasil pertumbuhan terlihat lebih baik. Anakan lebih banyak. Tinggi tanaman lebih unggul. Bahkan produktivitas pun meningkat. “Kami berharap ada bantuan pemerintah untuk pembenah tanah. Lahan di sini cenderung asam. Kalau pH bisa diperbaiki, hasilnya akan lebih bagus lagi,” ujarnya.
Ia tak hanya berhenti di situ. Sebagai pekaseh, Sukerta juga menghimbau anggota subak lain untuk meniru pola ini. “Bukti lapangan sudah ada. Pertumbuhan dan hasilnya nyata lebih tinggi,” tegasnya.
Sementara Widana, yang menjadi pembanding jalur konvensional, mengaku mendapat banyak pelajaran. “Dengan adanya demplot, kami jadi tahu. Jadi paham bahwa inovasi teknologi pertanian itu nyata. Ada pembanding yang jelas, bukan hanya cerita. Ada data, ada bukti. Tidak sekadar katanya,” ucapnya.
Subak Meliling, Kecamatan Kerambitan, tercatat memiliki luas areal 278 hektare dengan 21 tempek dan 552 anggota sesuai data ERDKK. Mayoritas petani masih menggandrungi varietas padi Inpari 32, meski ada juga yang menanam varietas lain seperti Cibatu.
Faktor Kunci
Penyuluh pertanian sering disebut “sahabat dekat petani”. Julukan itu tidak berlebihan. Sebab, di lapangan, penyuluhlah yang menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan praktik di sawah.
Di Subak Meliling, Kerambitan, Tabanan, peran itu terlihat jelas. Kehadiran Perhiptani Bali melalui Bidang Inovasi dan Teknologi duwet I Dewa Nyoman Darmayasa, S.P., M.P., dan I Gede Artha Sudiarsana, S.P., M.Agb., serta rekan penyuluh di Tabanan mendampingi petani dari awal hingga akhir musim tanam. Ia hadir ketika pekaseh Subak, I Made Sukerta, mencoba jalur baru dengan pupuk organik padat suplement dan POC Greenway. Ia juga mendampingi I Made Widana yang tetap bertahan dengan cara konvensional.
Kolaborasi ini bukan sekadar soal mencatat data. Lebih dari itu, penyuluh membantu petani memahami mengapa jumlah anakan bisa lebih banyak di jalur organik, mengapa tinggi tanaman sempat stagnan, hingga bagaimana pH tanah yang naik menjadi lebih ideal akan menentukan panen berikutnya.
Penyuluh hadir sebagai pemandu jalan. Petani yang berani mencoba seperti Sukerta memberi teladan. Petani lain yang masih bertahan konvensional, mendapatkan pembanding nyata. Pada akhirnya, kolaborasi ini melahirkan keyakinan, inovasi teknologi tidak menakutkan, justru membuka peluang baru.
“Penyuluh itu ibarat lampu jalan. Petani tetap yang berjalan, tapi penyuluh memastikan langkahnya tidak dalam gelap,” begitu kata Dewa Nyoman Darmayasa, Ketua Bidang IT DPW Perhiptani Bali yang juga Ketua DPD Perhiptani Kabupaten Jembrana.
Dengan jargon “AGRI TANI” Perhiptanin Bali, Demplot di Subak Meliling ini menjadi bukti bahwa kolaborasi petani dan penyuluh, mampu melahirkan pembelajaran nyata di tingkat subak. Bukan hanya soal peningkatan hasil, tetapi juga kesadaran petani akan pentingnya inovasi untuk keberlanjutan pertanian Bali.
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0