Pusluhtan Gandeng APO, Siapkan Workshop Carbon Credit Biochar di Bali
Upaya membuka peluang baru pembiayaan hijau di sektor pertanian mulai digerakkan. Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan) menggandeng Asian Productivity Organization (APO) menyiapkan Workshop Carbon Credit Methodology for Biochar yang akan digelar di Bali.
Pusluhtan Gandeng APO
Siapkan Workshop Carbon Credit Biochar di Bali
Penjajakan di Desa Gadungan, Dorong Pertanian Regeneratif dan Peluang Kredit Karbon
Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan) di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian Republik Indonesia, bakal menggelar Workshop Carbon Credit Methodology for Biochar di Bali pada 19–21 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi langkah strategis memperkuat kapasitas penyuluhan sekaligus membuka peluang pembiayaan karbon bagi sektor pertanian.
Sebagai bagian dari persiapan, Ketua Tim Kerja Pengelolaan Kerja Sama Penyelenggaraan Penyuluhan BPPSDMP, Aldilani, S.Si., M.P., melakukan kunjungan dan penjajakan ke Desa Gadungan. Kedatangannya beserta rombongan turut didampingi I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb., selaku Kelompok Substansi Penyuluhan Pertanian (Kapoksi) Provinsi Bali.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan bertemu dengan George H Riswantya, pendiri Green Indonesia, untuk membahas potensi kolaborasi dan dukungan teknis penyelenggaraan workshop.
Aldilani menuturkan, agenda workshop ini akan dilaksanakan bekerja sama dengan Asian Productivity Organization (APO). Kolaborasi tersebut diharapkan menghadirkan perspektif dan praktik terbaik internasional terkait metodologi penghitungan serta verifikasi kredit karbon berbasis biochar.
“Workshop ini bukan hanya forum diskusi, tetapi juga transfer pengetahuan teknis terkait carbon credit methodology for biochar. Dengan dukungan APO, kita ingin memastikan materi yang disampaikan mengacu pada standar dan praktik global,” ujarnya.
Menurutnya, biochar bukan sekadar pembenah tanah, tetapi juga instrumen mitigasi perubahan iklim yang memiliki nilai ekonomi melalui skema carbon credit. Karena itu, penyuluh pertanian perlu memahami metodologi, sistem pencatatan, hingga mekanisme verifikasi agar mampu mendampingi petani secara komprehensif.
Dalam kesempatan itu diperkenalkan REGEN, pupuk organik cair/hayati dan super kompos berbasis rumput laut tropis yang mengusung semangat pertanian regeneratif. Produk ini dirancang untuk memperbaiki kualitas tanah, meningkatkan produktivitas berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada input kimia.
Founder Green Indonesia, George H Riswantya, menegaskan REGEN mendukung hilirisasi nasional dengan menghadirkan solusi ramah lingkungan. Integrasi biochar dan pupuk hayati, katanya, menjadi strategi memperkuat kemandirian petani sekaligus menjaga keseimbangan alam.
Di tengah rangkaian persiapan workshop, Aldilani beserta rombongan juga menyempatkan berkunjung ke Cau Coklat. Dalam kunjungan tersebut, rombongan bertemu dengan Dr. Ir. I Wayan Alit Artha Wiguna, M.Si., Penyuluh Pertanian Ahli Utama yang telah purna tugas pendiri Cau Chocolates Bali, untuk berdiskusi mengenai potensi pengembangan Carbon Credit Methodology, termasuk aspek teknis produksi, penghitungan emisi, hingga peluang implementasinya pada komoditas perkebunan kakao.
Melalui workshop ini, Pusluhtan berharap lahir model kolaborasi multipihak dalam pengembangan carbon credit sektor pertanian di daerah. Bali dipilih karena dinilai memiliki ekosistem pertanian yang adaptif terhadap inovasi serta komitmen kuat pada praktik ramah lingkungan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum peningkatan kapasitas penyuluh dalam mengawal transformasi pertanian menuju sistem yang produktif, adaptif terhadap perubahan iklim, serta memiliki nilai tambah ekonomi berbasis lingkungan. (Jikwid/DeBasur/Ratna)
What's Your Reaction?
Like
8
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0