Sapi Jadi Tabungan, Sawah Jadi Mesin Uang
Sawah sebagai mesin penghasil uang musiman, sapi sebagai tabungan jangka menengah, dan profesinya sebagai tukang stail adat Bali sebagai pemasukan harian. Dari kombinasi inilah ekonomi rumah tangga Sujana bisa bertahan, bahkan berkembang, meski dengan segala keterbatasan dan fluktuasi harga pasar.
Sapi Jadi Tabungan, Sawah Jadi Mesin Uang
Strategi Nyoman Sujana, petani-ternak asal Desa Medahan, Gianyar Bali, menyeimbangkan arus kas harian dan tabungan jangka menengah lewat ladang dan kandang.
Di usianya yang menapak 55 tahun, Nyoman Sujana masih teguh menjaga warisan ayahnya beternak sapi. Di Banjar Anggar Kasih, Desa Medahan, Bali, pria yang sehari-hari juga bekerja sebagai tukang stail Bali untuk bangunan bali, tetap setia merawat ternak yang sudah menjadi bagian hidupnya sejak kecil.
Sujana kini memelihara empat ekor sapi tiga betina indukan dan satu pejantan. Pola beternaknya sederhana, sapi dipelihara selama dua hingga dua setengah tahun sebelum dijual. Harga jualnya pun cukup menjanjikan, seekor sapi bisa laku antara Rp15 juta hingga Rp17 juta, terutama saat momen Hari Raya Idul Adha, ketika permintaan biasanya melonjak dan harga ikut terdongkrak.
Dari sisi produktivitas, setiap indukan rata-rata melahirkan satu anak sapi per tahun. Dengan tiga indukan yang dimiliki, Sujana bisa berharap minimal tiga ekor anak sapi baru setiap tahun. Jika sebagian dipelihara dan sebagian dijual, populasi sapi di kandang bisa tetap stabil sekaligus mendatangkan aliran pendapatan berkala. Dalam hitungan sederhana, beternak sapi bisa menjadi tabungan jangka menengah bagi keluarga.
Namun, kendala tetap ada. Sujana mengaku beberapa kali gagal dalam program inseminasi buatan. “Mungkin terlalu lama atau pas birahinya belum puncak,” ujarnya. Kegagalan ini bisa berarti kerugian waktu, karena siklus kawin yang meleset akan mengurangi potensi kelahiran anak sapi.
Selain ternak, Sujana juga menggantungkan hidup dari sawah seluas 1 hektare. Lahan itu ia garap dengan sistem kontrak Rp50 ribu per are setiap panen, setara Rp1,5 juta yang harus disetor ke pemilik lahan. Dengan varietas padi unggul dulu Cigeulis, kini beralih ke Impari 32 ia bisa meraup pendapatan rata-rata Rp30 juta hingga Rp35 juta per musim. Jika panen bisa dilakukan dua kali setahun, maka sawah mampu menghasilkan sekitar Rp60 juta per tahun pendapatan yang relatif rutin dan bisa diprediksi.
Tak berhenti di situ, keterampilan tangannya sebagai tukang stail adat Bali juga menjadi sumber nafkah. Dari pekerjaan sehari-hari ini, ia bisa meraup hingga Rp200 ribu per hari, menjadi penyangga ekonomi keluarga saat hasil ternak atau panen padi sedang turun.
Dibandingkan dengan ternak sapi, sawah memberikan arus kas yang lebih cepat dan stabil. Sementara sapi, meski butuh waktu lebih lama hingga siap dijual, justru berperan sebagai aset investasi hidup. Saat kebutuhan besar datang, misalnya untuk biaya pendidikan anak atau keperluan adat, seekor sapi yang dijual bisa menutup kebutuhan sekaligus.
Keseimbangan inilah yang dijaga Sujana. Sawah sebagai mesin penghasil uang musiman, sapi sebagai tabungan jangka menengah, dan profesinya sebagai tukang stail adat Bali sebagai pemasukan harian. Dari kombinasi inilah ekonomi rumah tangganya bisa bertahan, bahkan berkembang, meski dengan segala keterbatasan dan fluktuasi harga pasar.
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0