Tyto Alba Bentengi Sawah
Di tengah ancaman perubahan iklim dan serangan hama yang semakin dinamis, Desa Sanding, Kecamatan Tampaksiring, mulai mengandalkan cara alami menjaga produktivitas sawah. Burung hantu jenis Tyto alba kini didorong menjadi garda terdepan pengendalian hama tikus melalui pembangunan rumah burung hantu (Rubuha).
Tyto Alba Bentengi Sawah
Perubahan kondisi agroklimat yang semakin dinamis mendorong perlunya langkah inovatif dan ramah lingkungan dalam mendukung penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Salah satunya melalui pelestarian musuh alami berupa burung hantu Tyto alba sebagai pengendali hama tikus di lahan pertanian.
Upaya itu mulai diperkuat di Subak Batang, Desa Sanding, Kecamatan Tampaksiring, Selasa (19/5/2026). Perbekelan Desa Sanding, BPP Tampaksiring, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Bali bersama Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan melakukan verifikasi administrasi pembangunan rumah burung hantu (Rubuha).
Perwakilan Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Marta, mengatakan potensi Tyto alba di kawasan tersebut sebenarnya cukup besar. Namun, pemanfaatan dan upaya pelestariannya dinilai masih belum optimal, padahal kondisi topografi dan ekosistem setempat sangat mendukung pengembangannya.
“Keberadaan Tyto alba di sekitar desa ini memiliki potensi besar, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Lingkungan di wilayah ini sangat mendukung sehingga perlu langkah inovatif untuk pengembangannya,” ujarnya sembari memberikan arahan teknis terkait pengembangbiakan burung hantu.
Komitmen menjaga ekosistem juga datang dari pemerintah desa. Perbekel Desa Sanding, Kompiang Ambarayusa, ST, mengatakan pihaknya selama ini telah menerapkan aturan dan imbauan kepada masyarakat agar tidak melakukan perburuan satwa, termasuk burung hantu.
“Kami sudah mengimbau masyarakat agar tidak menembak burung di wilayah desa, termasuk burung hantu. Ini bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan,” katanya.
Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Sanding, I Kadek Dwiguna, S.TP, menilai keberadaan Tyto alba sangat penting sebagai langkah antisipasi terhadap ancaman serangan tikus yang dapat muncul sewaktu-waktu.
“Burung hantu ini sangat diperlukan sebagai pengendali alami hama tikus agar tidak mengganggu aktivitas dan target luas tambah tanam padi,” ujarnya.
Koordinator BPP Tampaksiring, I Nengah Surata Adnyana, SP, menyambut antusias pembangunan fasilitas Rubuha tersebut. Menurutnya, keberadaan rumah burung hantu tidak hanya mendukung pengendalian hama, tetapi juga menjadi langkah pelestarian musuh alami yang manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
“Kami berharap petani dan masyarakat ikut menjaga serta merawat Rubuha ini dengan baik karena dampaknya bukan hanya dirasakan Desa Sanding, tetapi juga desa-desa lain di Kecamatan Tampaksiring,” jelasnya.
Dukungan juga disampaikan Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar melalui Plt Kabid PSP, I Made Martha Kasoema Dinatha, SP., MAP. Menurutnya, pembangunan satu paket Rubuha yang terdiri atas 10 unit diyakini dapat memberikan dampak positif bagi sektor pertanian.
“Kegiatan ini akan berhasil dan berkelanjutan apabila didukung seluruh pemangku kepentingan, terutama pemerintah desa dan masyarakat setempat,” pungkasnya. (Surata/JIkWid)
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0