“Yogi Priyadi, Sang Penyuluh Harapan”

Dari keluarga petani, Yogi tumbuh memahami makna tanah dan air. Kini, ia menjadi jembatan antara pemerintah dan petani di ujung barat Bali.

Dec 4, 2025 - 01:41
 0  63
“Yogi Priyadi, Sang Penyuluh Harapan”

“Yogi Priyadi, Sang Penyuluh Harapan”

Di Subak Pangkung Serangsang, Kecamatan Pekutatan, nama I Made Yogi Priyadi, SP. bukan sekadar dikenal sebagai penyuluh pertanian lapangan (PPL). Ia adalah tempat para petani bertanya, berbagi keluh, sekaligus mencari semangat baru ketika sawah mereka menghadapi masa sulit.

Yogi, begitu ia akrab disapa, adalah lulusan Universitas Udayana, Jurusan Agribisnis angkatan 2006 dan lulus pada 2010. Setelah menamatkan pendidikan, ia memulai kariernya di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Karangasem pada 2011–2016, lalu beralih ke Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem hingga 2018. Sejak 2019, ia diangkat dan dipercaya menjadi penyuluh di Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana tugas yang kini menjadi panggilan hidupnya.

Berawal dari lingkungan keluarga yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan tumbuh di daerah yang dikelilingi persawahan, Yogi merasa terpanggil untuk berkontribusi langsung di sektor pertanian. “Penyuluh bukan pekerjaan perkantoran. Kami turun langsung ke lapangan, berhadapan dengan berbagai karakter petani dan memahami masalah nyata yang mereka hadapi,” ujar Pria asal Bebandem Karangasem.

Baginya, seorang penyuluh adalah fasilitator, motivator, dinamisator, dan jembatan informasi antara pemerintah, lembaga penelitian, pelaku usaha, dan petani. “Tugas kami bukan hanya memberi penyuluhan, tapi mendampingi agar petani berdaya dan mandiri,” tambahnya.

Tantangan terbesar yang dihadapi Yogi di lapangan adalah keterbatasan sumber daya air. Pada musim kemarau panjang, terutama saat fenomena El Niño 2023, Subak Pangkung Serangsang bahkan tak bisa menanam padi. Tak tinggal diam, Yogi berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana untuk mengusulkan bantuan irigasi perpompaan (Irpom). Usahanya membuahkan hasil—tahun 2024, bantuan itu terealisasi, dan air kembali mengalir ke sawah petani.

Selain membantu infrastruktur air, Yogi juga mendorong inovasi sederhana namun berdampak besar di wilayah binaannya. Ia memperkenalkan teknik seleksi benih menggunakan air garam dan telur sebagai indikator kualitas. Sebelumnya, petani hanya merendam benih tanpa seleksi. Kini, 75 persen dari 24 anggota kelompok tani di wilayahnya telah menerapkan metode ini, dan hasil panen pun meningkat.

“Rasanya bangga sekali ketika inovasi yang sederhana bisa membawa hasil nyata,” ucapnya dengan senyum. “Asiknya jadi penyuluh adalah ketika teknologi yang kita ajarkan benar-benar bermanfaat untuk petani, dan mereka bisa hidup lebih sejahtera.”

Kerja keras dan dedikasinya tak berhenti di lapangan. Berkat konsistensi dan inovasi yang diterapkannya, Yogi dinobatkan sebagai Penyuluh Pertanian Berprestasi peringkat 3 tingkat Kabupaten Jembrana tahun 2025. Penghargaan itu menjadi bukti bahwa ketulusan dan ketekunan dalam mendampingi petani berbuah pengakuan nyata.

Namun bagi Yogi, prestasi bukan tujuan akhir. Ia menyebut penghargaan itu justru menjadi penyemangat untuk terus belajar dan memperluas manfaat penyuluhan. “Penghargaan itu saya anggap sebagai tanggung jawab moral untuk bekerja lebih baik lagi. Karena keberhasilan petani, itulah prestasi yang sesungguhnya,” ujarnya rendah hati.

Koresponden NDN DPD Perhiptani Jembrana

What's Your Reaction?

Like Like 5
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0