7,68 Ton/Ha dari Subak Pegending !
Kerja pendampingan yang konsisten akhirnya berbuah manis. Dari lahan 45 are di Subak Pegending, produktivitas padi menembus 7,68 ton per hektare. Yuk
7,68 Ton/Ha dari Subak Pegending !
Kerja senyap namun konsisten yang dilakukan para penyuluh pertanian akhirnya berbuah manis. Ubinan mandiri yang digelar Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Kecamatan Klungkung di Subak Pegending mencatat produktivitas padi mencapai 7,68 ton per hektare. Angka ini bukan sekadar deretan statistik, melainkan cerminan keberhasilan pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan di tingkat petani.
Panen tersebut merupakan milik petani I Wayan Sumantra dengan luas lahan 45 are. Lahan itu berada di wilayah binaan PPL drh. I Ngurah Wijana yang selama ini dikenal aktif dan proaktif dalam mendampingi petani, mulai dari tahap awal tanam hingga menjelang panen.
Varietas yang ditanam pada musim ini adalah Inpari 32, salah satu varietas unggul yang memiliki potensi hasil tinggi. Berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan di lokasi, jumlah anakan rata-rata tercatat 23 anakan per rumpun. Sementara itu, berat ubinan mencapai 4,8 kilogram. Jika dikonversikan, hasil tersebut menunjukkan produktivitas sebesar 7,68 ton per hektare.
Capaian ini tergolong sangat baik dan menjadi indikator bahwa penerapan teknik budidaya berjalan sesuai anjuran. Prosesnya tidak instan. Sejak awal musim tanam, penyuluh telah memberikan pendampingan intensif, mulai dari pengolahan lahan, pengaturan jarak tanam, penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman.
PPL drh. I Ngurah Wijana menegaskan bahwa kegiatan ubinan memiliki peran strategis dalam sistem budidaya padi. Menurutnya, ubinan bukan hanya formalitas untuk mengetahui hasil panen, melainkan instrumen evaluasi menyeluruh terhadap proses budidaya yang telah dilakukan.
“Ubinan ini menjadi tolok ukur keberhasilan pendampingan sejak awal tanam. Dari hasil 7,68 ton per hektare, kita bisa melihat bahwa penerapan anjuran teknis sudah dijalankan dengan baik dan disiplin oleh petani,” ujarnya.
Ia menambahkan, angka tersebut sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan di musim tanam berikutnya. Beberapa aspek seperti efisiensi pemupukan, manajemen air, serta pengendalian hama akan terus diperkuat agar produktivitas dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan.
Menurutnya, kunci keberhasilan tidak hanya terletak pada varietas unggul, tetapi juga pada konsistensi pendampingan dan kemauan petani untuk menerapkan teknologi budidaya yang dianjurkan.
“Kami selalu berupaya hadir di tengah petani. Pendampingan tidak berhenti pada teori, tetapi langsung di lapangan. Ketika ada kendala, kita carikan solusi bersama. Keberhasilan petani adalah keberhasilan kita semua,” tegasnya.
Sementara itu, I Wayan Sumantra mengaku bersyukur atas hasil panen yang diperoleh pada musim tanam kali ini. Ia merasakan perbedaan signifikan dibandingkan musim sebelumnya, terutama dari segi pertumbuhan tanaman dan jumlah anakan.
“Sejak awal tanam kami didampingi. Mulai dari pengolahan lahan sampai pengendalian hama selalu ada arahan. Kami jadi lebih yakin dalam mengambil keputusan di lapangan,” ungkapnya.
Ia menilai, pendampingan yang dilakukan penyuluh memberikan rasa percaya diri bagi petani. Setiap persoalan yang muncul dapat segera dikonsultasikan dan ditangani dengan cepat. Hal itu berdampak langsung pada pertumbuhan tanaman yang lebih seragam dan sehat.
“Hasil ubinan ini membuat kami semakin semangat. Artinya cara budidaya yang diterapkan sudah benar. Ke depan tentu kami ingin hasilnya bisa lebih baik lagi,” tambahnya.
Keberhasilan di Subak Pegending ini sekaligus menjadi gambaran bahwa sinergi antara penyuluh dan petani memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan di daerah. Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian, mulai dari perubahan iklim hingga ancaman hama penyakit, pendampingan yang konsisten menjadi faktor kunci peningkatan produktivitas.
Lebih dari sekadar capaian angka, hasil 7,68 ton per hektare ini menjadi pesan kuat bahwa ketika pendampingan dilakukan secara serius dan petani terbuka terhadap inovasi, sawah tidak hanya menghasilkan gabah, tetapi juga harapan. Dari Subak Pegending, optimisme terhadap peningkatan produksi padi di Kecamatan Klungkung kembali diteguhkan bahwa ketahanan pangan selalu dimulai dari kerja nyata di petak-petak sawah.
Kontributor: Anom Wijaya DPD Perhiptani Klungkung
Editor: Widianta
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0