Diana, Si Pena Data di Tengah Sawah

Di bawah terik matahari pagi, ada sosok perempuan bertopi hitam. Jemari tangannya, memegang bolpoin dan buku catatan, seakan menjadi rekan kerja yang tak terpisahkan. Jebolan Fakultas Pertanian Universitas Udayana tahun 2004 itu nyaris tiap hari turun langsung ke lapangan, berbaur dengan penyuluh pertanian dan petani di tengah sawah.

Oct 9, 2025 - 22:42
Oct 10, 2025 - 05:12
 0  58
Diana, Si Pena Data di Tengah Sawah

Diana, Si Pena Data di Tengah Sawah

Bagi banyak orang, ujung tombak pertanian di lapangan sering kali identik dengan penyuluh. Mereka yang langsung bersentuhan dengan petani, menjadi penghubung antara kebijakan dan praktik. Namun di balik itu, ada sosok lain yang bekerja dengan ketelitian dan konsistensi salah satunya adalah Putu Diana Ksesuma Dewi, S.TP.

Sebagai Staf Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kota Denpasar, Diana menjadi bagian dari mata rantai penting yang memastikan setiap program pertanian berjalan tepat sasaran. Ia bukan sekadar mencatat hasil ubinan atau menghitung produktivitas, tetapi juga menjadi jembatan antara data lapangan dan arah kebijakan pertanian daerah.

“Kalau penyuluh adalah garda depan, maka kami di bidang teknis adalah penguatnya,” tutur Diana. “Kami memastikan bahwa setiap langkah di lapangan punya dasar data dan analisis yang bisa dipertanggungjawabkan.”

Setiap hari, ia berbaur bersama penyuluh, memvalidasi hasil demplot, menganalisis potensi varietas, dan menyiapkan laporan yang menjadi dasar pengambilan keputusan bagi Dinas. Dalam konteks ini, peran Diana menjadi krusial ia adalah penghubung antara realitas lapangan dan strategi pembangunan pertanian kota. Di jemari tangannya, bolpoin dan buku catatan seakan menjadi rekan kerja yang tak terpisahkan.

Ketelitian dan kesabarannya di tengah lumpur sawah adalah bagian dari proses panjang menjaga ketahanan pangan di Denpasar. Ia memastikan tidak ada data yang luput, tidak ada keluhan petani yang tak tersampaikan. Di tangan-tangan seperti Diana, kebijakan pertanian tidak berhenti di atas kertas, melainkan tumbuh dan berbuah di lahan-lahan subak yang tetap lestari.

Catatan itu penting, karena dari sinilah tahu sejauh mana program pertanian berjalan dan sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi penyuluh pertanian. “Bagi saya, hasil demplot bukan hanya soal angka produktivitas, tapi juga pembelajaran bersama,” ujar Diana,.jebolan Fakultas Pertanian Universitas Udayana tahun 2004.

Siang itu, setelah semua data selesai dicatat, Diana menatap kembali hamparan padi yang bergoyang ditiup angin. Di balik lembar-lembar catatan sederhana itu, tersimpan semangat seorang staf muda yang percaya bahwa inovasi pertanian dimulai dari sawah, bukan dari meja rapat.

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0