“Dikawal Penyuluh, Subak Petak Menuju Agrowisata”
Desa Petak mulai menata langkah menuju agrowisata berbasis subak. Di balik gagasan itu, penyuluh pertanian menjadi penggerak yang memastikan praktik di sawah tetap menjadi fondasi utama.
“Dikawal Penyuluh, Subak Petak Menuju Agrowisata”
Desa Petak, Gianyar, sedang menata arah. Bukan sekadar wacana, tetapi mulai diwujudkan melalui gerak bersama antara desa, subak, dan penyuluh pertanian yang selama ini setia mendampingi petani di lapangan.
Dalam sebuah pertemuan yang berlangsung hangat, desa ini menerima kunjungan sekaligus simakrama dari Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik yang akrab disapa Mbo Luh Djelantik. Kehadirannya menjadi bagian dari ruang dialog terbuka yang mempertemukan berbagai unsur desa, mulai dari perangkat desa, pengurus lembaga desa, PKK, para pekaseh subak, hingga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
Suasananya cair, dialognya hidup. Bukan seremoni, melainkan ruang bertukar gagasan tentang masa depan desa.
Dalam forum itu, aspirasi masyarakat mengalir. Salah satu yang mengemuka adalah gagasan besar menjadikan Desa Petak sebagai desa agrowisata. Prebekel Desa Petak, Anak Agung Gede Mayun, menyampaikan bahwa potensi desa sangat memungkinkan untuk dikembangkan ke arah tersebut dengan tetap berpijak pada kekuatan utama desa. Pertanian dan Subak.
Gagasan ini bukan tanpa pijakan. Desa Petak memiliki bentang alam yang terhubung dalam satu jalur kawasan, mulai dari hamparan sawah, sumber mata air untuk melukat, hingga potensi air terjun. Rencana awal pun mulai dimatangkan, termasuk pembukaan akses jalan tracking sepanjang kurang lebih lima kilometer yang akan menghubungkan titik-titik potensi tersebut.
Di sepanjang jalur itu, tujuh subak menjadi penguat utama Subak Uma Anyar, Subak Pekarangan Madangan, Subak Benawah, Subak Bonnyuh Sari, Subak Bonnyuh, Subak Gunung Jimbar Kaja, dan Subak Gunung Jimbar Kelod yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan pertanian desa.
Dukungan sarana juga mulai dipikirkan. Salah satunya rencana pengadaan satu unit mesin power thresher untuk mendukung operasional subak. Pengelolaannya dirancang berbasis desa, agar manfaatnya bisa dirasakan bersama oleh petani.
Di titik inilah peran penyuluh menjadi penting.
PPL Desa Petak, Paksi Bali Dewa, S.P., M.Agb, melihat bahwa pengembangan agrowisata tidak bisa dilepaskan dari penguatan praktik budidaya di tingkat petani. Menurutnya, apa yang dilihat wisatawan nantinya harus berangkat dari sistem pertanian yang benar-benar dijalankan petani sehari-hari.
“Kalau yang dijual adalah pertanian, maka yang harus diperkuat lebih dulu adalah praktik di lahannya,” kira-kira begitu pendekatan yang dibangun di lapangan.
Sejumlah subak di Desa Petak bahkan telah mulai menerapkan pola pertanian ramah lingkungan. Ini menjadi modal penting. Tidak hanya menghadirkan lanskap yang menarik, tetapi juga menawarkan cerita tentang keseimbangan alam dan kearifan lokal.
Para pekaseh pun melihat peluang ini sebagai jalan untuk memperkuat ekonomi desa tanpa meninggalkan identitas pertanian. Harapannya sederhana: manfaatnya kembali ke petani, baik melalui peningkatan nilai hasil, akses sarana produksi, maupun program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Namun di balik optimisme itu, tantangan tetap ada.
Salah satunya adalah serangan hama tikus yang belakangan meningkat di beberapa wilayah subak. Penyuluh bersama petani tidak tinggal diam. Pendekatan yang didorong bukan lagi sekadar pengendalian konvensional, tetapi mulai mengarah pada solusi yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu opsi yang sedang didorong adalah pemanfaatan burung hantu Tyto alba sebagai predator alami. Melalui pembangunan Rumah Burung Hantu (RUBUHA), diharapkan ekosistem pengendalian hama bisa terbentuk secara lebih berkelanjutan.
Bagi penyuluh, langkah ini bukan sekadar mengatasi hama. Lebih dari itu, ini adalah bagian dari membangun sistem pertanian yang selaras dengan konsep agrowisata di mana aspek ekologi, edukasi, dan estetika berjalan beriringan.
Gerak Desa Petak hari ini menunjukkan satu hal: pembangunan pertanian tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Ia bisa tumbuh dari percakapan, dari kesadaran bersama, dan dari pendampingan yang konsisten di tingkat tapak.
Ketika subak bergerak, penyuluh menguatkan, dan desa memberi arah, maka mimpi tentang agrowisata bukan lagi sekadar rencana. Ia perlahan menjadi kenyataan yang ditanam, dirawat, dan dipanen bersama.
Koresponden: Paksi BD
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0