“Geben: Meniti Jalan Penyuluh dari Biak Numfor ke Gianyar”

Bertahun-tahun jauh dari rumah bukan hal mudah. Tapi bagi I Made Geben, pengabdian pada petani adalah panggilan yang tak bisa ditawar. Dari tanah rantau di Biak Numfor, Papua, hingga kini dipercaya sebagai Ketua Tim Kerja Penyuluhan Kabupaten Gianyar, ia terus menapaki jalan panjang seorang penyuluh sejati.

Jan 9, 2026 - 04:19
 0  83
“Geben: Meniti Jalan Penyuluh dari Biak Numfor ke Gianyar”

“Geben: Meniti Jalan Penyuluh dari Biak Numfor ke Gianyar”

Di sebuah desa yang asri di Kabupaten Gianyar, tepatnya di Desa Tegenungan, lahir seorang putra petani sederhana. Kedua orang tuanya menggantungkan hidup dari tanah menanam padi, kangkung, dan pandan wangi. Sejak kecil, bocah bernama I Made Geben itu sudah akrab dengan lumpur sawah dan aroma tanah basah. Sore hari selepas sekolah, ia kerap membantu orang tuanya menanam dan memanen hasil bumi.

“Dari kecil saya sudah terbiasa hidup di sawah. Melihat orang tua bekerja keras menanam padi, membuat saya yakin bahwa dunia pertanian adalah jalan hidup saya,” tutur Geben mengenang masa kecilnya.

Tekad itulah yang mengantarkannya melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pertanian Pembangunan – Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPP-SPMA) di Denpasar, tempat yang melahirkan generasi muda pelanjut cita-cita petani Indonesia. Ia menamatkan pendidikannya pada tahun 1985, dan langkah pengabdiannya di dunia pertanian pun dimulai.

Menyeberang ke Timur, Pengabdian di Tanah Papua

Angin laut Biak pernah menjadi saksi langkah pengabdian seorang pemuda asal Gianyar. Setelah lulus, Geben mengikuti seleksi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk Provinsi Irian Jaya (sekarang Papua). Ia dinyatakan lulus dan mendapat penugasan pertama di Kabupaten Biak Numfor. Sebuah perjalanan panjang menanti. Untuk mencapai lokasi tugas di Pulau Numfor, ia harus menempuh perjalanan 12 jam menggunakan perahu telpel, atau 1 jam dengan pesawat kecil Twin Otter berkapasitas 12 orang dari Bandara Frans Kaisiepo, Biak.

“Kadang kami berangkat pagi, sampai malam baru tiba. Ombak besar dan hujan bukan halangan. Perjalanan laut terasa panjang, tapi begitu tiba, semua lelah hilang melihat sambutan petani. Begitulah hidup penyuluh di pelosok,” kenangnya dengan senyum kecil.

Di tanah rantau itu, Geben mendampingi para petani yang hidup berpindah-pindah (nomaden), mengenalkan cara bertani yang lebih efisien dan berkelanjutan. Ia tinggal di tengah masyarakat, berbagi ilmu sekaligus belajar kearifan lokal. “Yang paling berkesan, mereka selalu berbagi hasil kebun meski sederhana. Itu pelajaran berharga tentang keikhlasan,” ujarnya lirih lembut.

Hidup di pelosok bukan tanpa ujian. Harus berani berdamai dengan sepi. Listrik sering padam, hiburan nyaris tak ada, dan makan mewah. Menu sehari-hari lebih sering berupa sayur hasil kebun petani. “Sepi sudah jadi teman, tapi hati tenang karena merasa berguna,” tutur Geben tersenyum.

Dalam kesederhanaan itu, semangatnya untuk terus belajar tak pernah padam. Tahun 1992 menjadi titik penting. Geben mengikuti pendidikan kedinasan di Akademi Penyuluhan Pertanian (APP) Gowa, Sulawesi Selatan, dan berhasil menyelesaikannya pada 1995. Bekal ilmu baru itu menjadi fondasi kuat dalam meningkatkan profesionalisme dan memperluas jangkauan penyuluhan di lapangan.

Pulang ke Bali, Menyemai Harapan Baru

Setelah lebih dari satu dekade mengabdi di tanah perantauan, tahun 1999 Geben akhirnya mendapat kesempatan untuk kembali ke tanah kelahirannya, Bali. Ia dimutasi ke Kabupaten Gianyar, sebuah tempat yang tak hanya menjadi rumah, tetapi juga ladang baru untuk menanamkan semangat penyuluhan. Penempatan awalnya berada di WKPP Desa Puhu, Kecamatan Payangan, wilayah dengan bentang sawah yang subur. Di sana, Geben kembali membaur dengan petani, membangun kepercayaan, dan menumbuhkan semangat kemandirian.

“Pulang bukan berarti berhenti berjuang. Justru di sini tantangannya berbeda bagaimana menguatkan petani agar terus mencintai profesinya,” katanya.

Jejak Panjang di Tanah Kelahiran

Tahun berganti, dan kiprah Geben di Gianyar terus berlanjut. Pada tahun 2000, ia dipercaya bertugas di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Ubud, membina Desa Peliatan. Dua puluh tahun kemudian, pada 2021, ia kembali dipercaya mengemban amanah di BPP Sukawati dengan wilayah binaan Desa Kemenuh dan Batuan.

Di setiap tempat tugas, Geben dikenal sebagai sosok yang tekun turun ke lapangan, berdialog langsung dengan petani, dan menjadi jembatan antara program pemerintah dengan kebutuhan nyata di sawah. “Kuncinya adalah mendengar. Petani butuh teman bicara, bukan sekadar arahan,” ujarnya.

Setahun berselang, 2022, ia diangkat menjadi Koordinator BPP Gianyar, dengan wilayah binaan Desa Sidan, Tulikup, Lebih, dan Serongga. Posisi itu semakin memperluas perannya dalam memastikan penyuluhan pertanian tetap berjalan efektif dan berdaya guna bagi masyarakat tani.

Dalam kesehariannya, Geben dikenal sebagai sosok penyuluh yang selalu hadir di setiap waktu petani membutuhkan. Ia memahami bahwa pekerjaan di sawah tidak mengenal jam kantor. Karena itu, pendampingan dan bimbingan teknis (bimtek) sering ia lakukan dengan menyesuaikan situasi dan waktu para petani.

“Kadang malam juga kita layani. Saat petani baru sempat kumpul setelah panen atau menanam, di situlah kita berdiskusi,” tutur Geben, menggambarkan kesetiaannya mendampingi masyarakat tani tanpa batas waktu.

Tak hanya aktif turun langsung ke lapangan, Geben juga memanfaatkan media lokal sebagai sarana penyuluhan dan edukasi bagi petani. Ia kerap menjadi narasumber di salah satu stasiun radio di Gianyar, membagikan pengalaman, wawasan, serta berbagai tips pertanian yang mudah diterapkan di lapangan.

Melalui udara, Geben menjangkau lebih banyak pendengar mulai dari petani di pelosok hingga masyarakat umum yang peduli terhadap dunia pertanian. Dalam setiap siaran, ia tak hanya memberi informasi teknis, tetapi juga menyisipkan semangat dan motivasi agar petani tetap optimistis menghadapi tantangan zaman.

Puncak Karier dan Amanah Baru

Puncak perjalanan panjang itu tiba pada 1 Januari 2026. Setelah lebih dari tiga dekade mengabdi tanpa henti di dunia penyuluhan, I Made Geben, S.P. yang dahulu memulai kariernya sebagai penyuluh daerah, kini resmi diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pusat dengan jabatan Penyuluh Pertanian Ahli Madya di bawah naungan Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Bagi Geben, jabatan itu bukan sekadar capaian administratif, melainkan penghargaan atas dedikasi, ketekunan, dan ketulusan seorang anak petani yang sejak awal memilih untuk mengabdi bagi petani lain. “Ini bukan akhir perjalanan, tapi awal tanggung jawab yang lebih besar,” ujarnya penuh makna.

Namun perjalanan itu tidak berhenti di sana. Hanya beberapa hari berselang, tepatnya pada 6 Januari 2026, kepercayaan baru kembali datang. I Made Geben dikukuhkan sebagai Ketua Tim Kerja (Katimker) Kabupaten Gianyar, sebuah amanah strategis yang semakin menegaskan kiprahnya dalam memperkuat jaringan dan koordinasi penyuluhan pertanian di tingkat daerah.

Bagi Geben, tanggung jawab baru itu bukan sekadar jabatan, melainkan kesempatan untuk terus menyalurkan pengabdian. “Bagi saya, jabatan hanyalah sarana. Yang utama tetap bagaimana petani bisa maju, mandiri, dan sejahtera,” ujarnya mantap, menutup kalimat dengan keyakinan seorang penyuluh sejati.

Menyalakan Api Penyuluhan

Kini, di usianya yang matang, Geben tetap setia mendampingi petani. Ia percaya, keberhasilan pertanian tidak hanya bergantung pada teknologi dan program, tetapi juga pada hati yang tulus. Dari Biak Numfor hingga Gianyar, perjalanan panjangnya menjadi saksi bahwa pengabdian sejati tidak mengenal batas wilayah.

“Penyuluh bukan sekadar profesi, tapi jalan hidup. Kalau petani tersenyum, di situlah kebahagiaan saya,” tutupnya dengan mata berbinar.(jikwid)

What's Your Reaction?

Like Like 6
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0