Gerhana PPL: “Dari Gagal Ujikom, Kini Jadi Lentera Ribuan Penyuluh Indonesia”

Redaksi Perhiptani Bali berkesempatan berbincang santai dengan sosok yang tengah ramai diperbincangkan di kalangan penyuluh se-Indonesia. Putra Pratama, S.TP, M.Si, atau yang akrab disapa “Gerhana PPL”. Dari namanya yang unik hingga kiprahnya membantu ribuan penyuluh lulus ujikom, inilah kisahnya.

Nov 10, 2025 - 02:38
Nov 10, 2025 - 02:47
 4  850
Gerhana PPL: “Dari Gagal Ujikom, Kini Jadi Lentera Ribuan Penyuluh Indonesia”

Gerhana PPL:

“Dari Gagal Ujikom, Kini Jadi Lentera Ribuan Penyuluh Indonesia”

Kota Curup, 18 Maret 1988 menjadi hari yang tak biasa bagi Bengkulu. Langit meredup, matahari tertutup bayangan bulan. Di saat fenomena langka itu terjadi, lahirlah seorang bayi yang kelak dikenal dengan nama “ Gerhana PPL” . Nama itu kini melekat kuat di dunia penyuluhan pertanian Indonesia, bukan karena sensasi, tapi karena dedikasi.

Putra Pratama, S.TP, M.Si, adalah sosok penyuluh yang kini berdinas di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu. Anak asli Minangkabau ini menempuh pendidikan S1 di IPB Bogor (2006–2010) jurusan Teknik Pertanian dan melanjutkan S2 di Universitas Bengkulu (2014–2017) jurusan Manajemen Agribisnis. Saat ini, ia menjabat sebagai Koordinator Jabatan Fungsional (KJF) kabupaten, merangkap Korluh kecamatan dengan empat desa binaan, sekaligus Ketua DPD Perhiptani Kabupaten Lebong.

Mas Gerhana, nama “Gerhana PPL” ini unik sekali. Apa ada kisah dibaliknya?

Ya, sebenarnya sederhana saja. Saya lahir di Curup, Bengkulu, pada tanggal 18 Maret 1988 pas banget saat terjadi gerhana matahari total. Jadi teman-teman sering bercanda, katanya saya anak gerhana. Nah, saat bikin akun media sosial, saya pikir “Gerhana PPL” itu catchy, mudah diingat, dan beda dari yang lain. Kalau “Putra PPL” pasti sudah banyak yang pakai. Hehe-he.

Menarik sekali! Kami mendengar perjalanan Mas Gerhana sampai ke jenjang Madya itu penuh lika-liku ya?

Betul. Saya empat kali ikut ujikom madya. Empat kali ikut CAT, dua kali wawancara, bernilai selalu tinggi. Tapi selalu saja ada kendala.

Pernah nilai angka kredit kurang satu poin, pernah juga PAK belum keluar pas ujian berikutnya. Bahkan sempat dikeluarkan dari ruang wawancara Zoom karena mic saya belum di- unmute oleh panitia! (tertawa kecil) Untung operator cepat tanggap, jadi saya bisa lanjut wawancara. Tapi tetap saja, ujian manajerial berikutnya saya ketinggalan karena jadwal dimajukan tanpa pemberitahuan.


Wah, itu pasti pengalaman yang melelahkan secara mental. Apa yang membuat Mas tidak menyerah?

Mungkin karena saya tahu rasanya sakit ketika sudah berjuang tapi gagal bukan karena kemampuan, melainkan karena informasi yang kurang. Saya berpikir, jangan sampai orang lain merasakan hal yang sama.

Dari situ saya mulai mengumpulkan materi ujikom, buat catatan, lalu tahun kemarin saya iseng bikin video di TikTok. Isinya cuma penjelasan soal-soal ujikom yang saya punya. Eh, ternyata viral! Ratusan CPNS PPL kirim pesan, minta file, dan dua bulan kemudian banyak yang bilang mereka lulus setelah belajar dari materi itu. Rasanya bahagia banget, lebih dari lulus ujikom sendiri.

Jadi dari situlah muncul komunitas PEPELESIA?

Betul. Awalnya karena terlalu banyak yang bertanya hal yang sama, saya buat grup WhatsApp khusus CPNS PPL. Saya namai “PEPELESIA”, gabungan dari PPL, Indonesia, dan Rafflesia bunga khas Bengkulu.

Lalu lahirlah grup PEPELENIAL, isinya seribu lebih penyuluh muda. Dan terakhir KOMPUSLUH, yang fokus latihan ujikom bersama lewat tryout yang saya adakan. Total ada lebih dari seribu peserta aktif di sana.


Kami dengar Mas Gerhana juga menciptakan sistem tryout berbasis online ya?

Ya. Awalnya saya ingin membuat website sendiri seperti tryout CPNS, tapi ternyata belajar pemrogramannya susah. Akhirnya saya bertanya pada ChatGPT (tertawa), dan disarankan menggunakan aplikasi Kahoot .

Malam itu juga saya coba, bikin 50 soal pertama. Eh, bisa jalan! Dari situ saya adakan tryout berkali-kali, dan alhamdulillah, lebih dari seribu penyuluh berhasil lulus ujikom setelah ikut latihan itu. Senang banget rasanya.


Luar biasa! Selain soal ujikom, apa kegiatan lain yang sedang Mas dorong sekarang?

Saya lagi fokus pada gerakan pemetaan lahan pertanian pakai situs gratis Pusdatin. Dengan cara itu, penyuluh bisa membantu mendeteksi lahan fiktif atau tumpang tindih hanya lewat HP dalam lima menit. Saya juga buat grup SULUHTAN, berisi seribu PPL yang tertarik belajar polygon, bahkan Pak Subehi dari Pusdatin ikut aktif di situ.
Selain itu, saya juga mengelola Channel PEPELESIA di WhatsApp, berisi update informasi penyuluhan dari berbagai daerah. Semua serba swadaya, niatnya hanya satu: agar informasi cepat sampai ke teman-teman PPL di pelosok.


Dengan semua kiprah ini, apa yang menjadi motivasi terbesar?

Saya selalu percaya, kalau penyuluh itu bukan hanya profesi, tapi panggilan hati. Dulu saya sempat gelisah karena merasa berjalan sendiri, tapi sekarang saya tahu lewat Perhiptani, kita bisa saling menguatkan.

Saya ingin teman-teman penyuluh sadar, dibalik keterbatasan, kita bisa tetap berkarya, berbagi, dan memberi manfaat. Selama niatnya baik, jalan itu akan selalu terbuka.

Terima kasih banyak Mas Gerhana, atas waktunya dan inspirasinya. Semoga semangat berbagi ini terus menular ke penyuluh-penyuluh di seluruh Indonesia.

Aamiin. Salam penyuluh, salam Perhiptani. Mari terus bergerak bersama untuk pertanian Indonesia yang lebih maju!

Wawancara Siang itu diakhiri dengan tawa ringan. Meski begitu namanya diambil dari fenomena ketika cahaya matahari tertutup, justru dialah yang kini menjadi sumber terang bagi ribuan penyuluh pertanian di seluruh penjuru negeri. (Trio.B)

Salam penyuluh, salam Perhiptani!

Bersama kita kuat, bersatu kita maju.

What's Your Reaction?

Like Like 48
Dislike Dislike 0
Love Love 3
Funny Funny 1
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 2