Lahir di Papua, Berdarah Penyuluh Pertanian
Lahir di tanah rantau Papua dari pasangan penyuluh pertanian. Kini, perempuan itu meneruskan jejak orang tuanya, menanam harapan bagi petani di Bali lewat kerja nyata, ilmu, dan ketulusan.
Lahir di Papua, Berdarah Penyuluh Pertanian
Lahir di tanah perantauan Papua dari pasangan penyuluh pertanian, Kadek Leni tumbuh di tengah aroma tanah, kebun, dan pengabdian. Kini, perempuan kelahiran 1997 itu meneruskan jejak orang tuanya menanam harapan bagi petani dan menjaga warisan semangat pertanian yang tak lekang oleh waktu.
Suara jangkrik senja dan semilir angin kebun masih lekat dalam ingatan Kadek Leni, S.Tr.P. Ia lahir di Sorong, Papua, di tengah pengabdian kedua orang tuanya yang kala itu bertugas sebagai penyuluh pertanian. Sejak kecil, dunia pertanian sudah menjadi bagian dari kepuasan hidup bukan hanya karena profesi, tapi karena cinta yang diwariskan.
Ayahnya hanya lulusan SPP-SPMA Singaraja angkatan 1983, dan ibunya angkatan 1985. Keduanya berjodoh lewat profesi yang sama, penyuluh yang mengabdi di tanah rantau. Selama 15 tahun (1985–2000) mereka mengabdikan diri di Papua, menanam ilmu dan harapan di tengah masyarakat tani setempat.
Tahun 2000, keluarga kecil itu kembali ke Bali, tanah leluhur yang lama mereka rindukan. Di sanalah jejak pengabdian kedua orang tuanya dilestarikan sang putri tunggal.
“Sejak kecil saya sudah terbiasa diajak ke sawah dan ikut sangkep (rapat Kelompoktani, red) di balai subak binaan bapak ibu. Suasananya hangat dan penuh kebersamaan,” kenang Leni. “Mungkin dari situlah rasa cinta saya pada penyuluhan mulai tumbuh.”
Tumbuh Bersama Alam dan Jiwa Petualang
Leni tumbuh di lingkungan petani, terbiasa mendengar kisah tentang tanah, panen, dan musim. Ia punya jiwa petualang yang diwarisi dari kedua orang tuanya, semangat menjelajah dan belajar langsung dari lapangan.
Setelah menamatkan pendidikan di SMA Negeri 4 Singaraja, Leni memantapkan hati untuk melanjutkan studi ke Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang, jurusan Penyuluhan Pertanian, pada tahun 2015. Di kampus itu, semangatnya semakin kuat.
“Saya makin yakin, penyuluhan itu bukan sekadar pekerjaan. Ini cara kita ikut menumbuhkan masa depan petani,” ujarnya lembut.
Meniti Jalan Pengabdian
Usai lulus, Leni mengawali kariernya sebagai tenaga kontrak penyuluh pertanian di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sawan, tepatnya di Desa Bebetin, Buleleng. Satu tahun masa pengabdian itu menjadi bekal berharga untuk langkah berikutnya.
Tahun 2019, ia mengikuti seleksi formasi CPNS penyuluh pertanian dan dinyatakan lulus. Saat ini, Kadek Leni bertugas sebagai Penyuluh Pertanian Provinsi Bali di bidang perkebunan, dengan wilayah binaan meliputi Bangli, Buleleng, dan Badung.
Meski wilayahnya luas, semangatnya tak pernah surut.
“Kadang saya ikut kegiatan di luar wilayah binaan, asal bisa menambah ilmu dan pengalaman. Dunia pertanian selalu berkembang, jadi penyuluh juga harus terus belajar,” katanya.
Selain membina kelompok tani, Leni juga aktif menjadi narasumber di RRI Denpasar dalam program MozaiK Indonesia Bersama Forkoperri , membahas isu-isu aktual seputar pertanian.
Tetap Setia jadi Penyuluh
Menatap masa depan, Leni tak gentar dengan rencana integrasi penyuluh pertanian daerah ke pusat dalam satu komando tahun 2026. Ia memilih menyambut dengan lapang dada untuk terus semangat. Apa pun bentuk struktur kelembagaannya nanti.
“Selama aku tetap jadi penyuluh, aku bahagia,” ucapnya mantap.
“Saya lebih memilih menjalani pekerjaan yang saya sukai. Karena bagi saya, penyuluhan itu bukan sekadar profesi, bentuk pengabdian pang nyata dan panggilan hati.”
Dari Papua hingga Bali, jejak Kadek Leni adalah kisah tentang kesetiaan dan cinta yang diwariskan lintas generasi. Ia tumbuh dari tanah yang subur, tanah yang sama tempat ia kini menanam ilmu, harapan, dan masa depan bagi para petani Bali. (jikwid)
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0