Penyuluh itu lentur, bukan lemah
Pertemuan antara Prof. Dr. Ir. I Dewa Putu Oka Suardi, M.Si. (Guru Besar Unud) dan Ketua Harian DPW Perhiptani Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb. membahas tantangan dan masa depan profesi penyuluh pertanian. Unud berencana membuka S2 Penyuluhan Pertanian untuk meningkatkan kapasitas SDM penyuluh.
Saya bertemu orang penting. Tapi bukan pejabat. Bukan juga tokoh politik. Ia ilmuwan. Guru besar. Tapi rendah hati. Dan yang terpenting, peduli.
Namanya panjang, Prof. Dr. Ir. I Dewa Putu Oka Suardi, M.Si. Tapi beliau lebih suka dipanggil “Pak Oka.” Guru Besar Penyuluhan Pertanian dari Universitas Udayana itu terlihat sederhana. Tapi pikirannya tajam. Pandangannya jauh ke depan.
Pertemuan itu diawali dengan obrolan santai bersama Ketua Harian DPW Perhiptani Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb,. Ngobrol ringan, tapi isinya berat.
Topiknya, penyuluh pertanian.
Dewan Pimpinan Wilayah Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (DPW PERHIPTANI) Provinsi Bali bersiap menggelar ajang bergengsi Lomba Penyuluh Pertanian Berprestasi Tahun 2025 sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi para penyuluh sekaligus upaya menjaga eksistensi dan marwah profesi di tengah tantangan yang kian kompleks.
Dalam pertemuan, Arya Sudiadnyana menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi terkini dunia penyuluhan. “Kami melihat bahwa tugas pokok dan fungsi penyuluh mulai tergerus. Banyak penyuluh kini lebih disibukkan dengan target tanam dan pengawasan, sementara esensi penyuluhan sebagai proses pemberdayaan mulai tersisih,” ungkapnya.
Hal ini diamini oleh Prof. Oka Suardi yang menyoroti pentingnya mempertahankan peran ideal penyuluh sebagai pendamping, fasilitator, dan motivator petani. Ia menegaskan, “Tantangan zaman tidak boleh menggerus esensi penyuluh. Sebaliknya, kita harus meningkatkan kapasitas SDM agar mampu menjawab tantangan dengan ilmu dan kompetensi.”
Sebagai langkah lanjutan, Fakultas Pertanian Universitas Udayana pun menyatakan dukungannya dengan merencanakan pembukaan program pasca sarjana (S2) di bidang Penyuluhan Pertanian. “Kami ingin memberikan ruang bagi penyuluh untuk terus belajar, tumbuh, dan menjadi agen perubahan di tengah dinamika pertanian modern,” tambah Prof. Oka.
Dalam percakapan itu, Prof. Oka tidak semata-mata mengkritik kondisi yang ada. Ia juga mengajak melihat sisi terang dari tugas penyuluh yang kini lebih banyak mengawal target tanam.
“Kalau dilihat lebih jernih, ini sebenarnya peluang,” katanya sambil tersenyum kecil. “Petani bisa lebih fokus. Penyuluh bisa bantu mereka meningkatkan produktivitas. Kalau hasilnya bagus, harga pun bisa mendekati HPP. Itu artinya, ada nilai tambah nyata.”
Saya tercenung. Sebuah cara pandang yang tak biasa. Optimistik. Tapi tidak naif.
Menurutnya, penyuluh yang peka dan kreatif tetap bisa memainkan peran strategis, bahkan dalam sistem yang kaku. “Penyuluh itu lentur, bukan lemah. Ia bisa beradaptasi, tapi tidak kehilangan arah,” tambahnya.
Percakapan siang itu bukan hanya ajang bertukar pikiran. Ia seperti menyiram kembali bara api yang hampir padam. Semangat itu kembali menyala. Bahwa penyuluh pertanian masih relevan. Bahkan sangat penting.
Bahwa peran mereka bukan hanya teknis. Tapi strategis. Untuk kemandirian pangan. Untuk masa depan petani. Dan untuk kita semua yang makan nasi setiap hari, tapi sering lupa siapa yang menanamnya. Humas
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0