Penyuluh Jadi Idola Baru Sekolah
Profesi penyuluh pertanian kini semakin mendapat tempat di dunia pendidikan. Melalui figur Ni Nyoman Apriani, SP, Koordinator Penyuluh Pertanian Kabupaten Gianyar, semangat bertani diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak sekolah usia dini. Ia membawa pesan sederhana, belajar mencintai tanah adalah langkah awal mencintai kehidupan.
Penyuluh Jadi Idola Baru Sekolah
Dari sawah menuju ruang belajar, penyuluh pertanian kini jadi narasumber favorit sekolah anak usia dini. Mengajarkan cinta tanah, kerja keras, dan rasa hormat pada setiap butir nasi.
Penyuluh pertanian kini tak hanya bekerja di balik hamparan sawah. Mereka mulai merambah dunia pendidikan, menjadi inspirasi baru bagi anak-anak untuk mencintai alam dan menghargai hasil bumi. Salah satu sosok yang menonjol adalah Ni Nyoman Apriani, SP, Koordinator Penyuluh Pertanian Kabupaten Gianyar, sekaligus sempat sebagai menyandang penyuluh teladan Tingkat Provinsi Bali yang kini kerap diundang menjadi narasumber kegiatan edukatif di sekolah-sekolah dasar.
Belum lama ini, Apriani hadir bersama dua rekannya I Putu Surya Angga Raditya, SP dan Made Rizki Putri Dinanti, S.TP dalam kegiatan outing bertema “Learning the Process of Rice Seeding 2025” yang digelar oleh KIDDOS PLUS Elementary School di lahan pertanian edukatif Gianyar, Bali.
Suasana sawah pagi itu dipenuhi tawa dan semangat anak-anak berseragam merah putih. Ratusan siswa belajar menanam padi langsung di lumpur, dipandu oleh para penyuluh berpengalaman. Kegiatan ini menjadi ajang belajar tak biasa: menghubungkan dunia anak dengan kehidupan nyata petani.
Kepala Sekolah Ni Luh Wina Sri Vandewi, S.Pd. menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pendidikan karakter yang menghubungkan teori dan praktik di alam.
“Kami ingin anak-anak belajar menghargai setiap butir nasi yang mereka makan, dengan memahami perjuangan di baliknya,” ujarnya.
Bagi Ni Nyoman Apriani, pengalaman turun ke sekolah memberi makna tersendiri. Sebagai penyuluh teladan, ia melihat pentingnya menanamkan kecintaan terhadap pertanian sejak dini.
“Anak-anak perlu tahu bahwa beras yang mereka makan tidak datang begitu saja. Ada proses panjang, ada keringat petani, ada cinta terhadap tanah,” tutur Apriani dengan penuh semangat.
Apriani telah lebih dari satu dekade berkecimpung dalam dunia penyuluhan pertanian. Ia dikenal bukan hanya karena kepiawaiannya membimbing petani dewasa, tapi juga karena kemampuannya menyampaikan ilmu dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. “Melalui kegiatan seperti ini, saya ingin anak-anak bisa merasakan langsung menanam padi. Belajar dengan tangan kotor, tapi hati bahagia,” ucapnya sambil tersenyum.
Kegiatan outing itu tak sekadar praktik menanam. Siswa juga diajak menonton video edukasi yang memperlihatkan proses budidaya padi dari awal hingga panen. Para guru mendampingi anak-anak sepanjang kegiatan, memastikan keamanan dan kenyamanan mereka.
Ni Luh Wina menuturkan, kehadiran penyuluh seperti Apriani dan timnya memberi warna baru dalam metode belajar sekolah.
“Anak-anak lebih fokus dan antusias saat belajar langsung dari ahlinya. Mereka bukan hanya belajar menanam, tapi juga menghargai profesi petani,” jelasnya.
Apriani berharap, kegiatan serupa terus digalakkan di sekolah-sekolah lain.
“Kalau sejak kecil anak-anak sudah kenal dengan proses bertani, mereka akan tumbuh dengan rasa cinta pada alam dan tidak menyia-nyiakan makanan. Dari sawah inilah lahir kesadaran hidup yang sesungguhnya,” tegasnya.
Melalui figur seperti Ni Nyoman Apriani, SP, penyuluh pertanian kini bukan sekadar pemandu teknis di lapangan, tapi juga pendidik inspiratif yang menanam nilai-nilai kehidupan di hati generasi muda.
Koresponden Shintya Dewi DPD Perhiptani Gianyar
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0