Penyuluh Pertanian adalah Tulang Punggung Petani
Pelatihan budidaya bawang merah dan pembuatan agensia hayati di Subak Mambal, Badung, perkuat petani untuk bertani berkelanjutan. Acara DPW Perhiptani Bali ini fokus pada inovasi ramah lingkungan.
Pelatihan ini bukan hanya soal teknologi. Tapi tentang keberanian. Berani meninggalkan ketergantungan pada pestisida. Berani mengolah sendiri agensia hayati. Berani bertani dengan cara baru.
Di Subak Mambal, Desa Mambal, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Jumat (1/8/2025), petani berkumpul bukan hanya untuk belajar, tapi juga untuk bergerak bersama. Dalam rangka Bulan Bakti memperingati HUT ke-38 DPW Perhiptani Bali, mereka mengikuti pelatihan budidaya bawang merah sekaligus membuat agensia pengendali hayati—teknologi sederhana tapi ampuh menjaga tanaman dari hama tanpa merusak lingkungan.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Badung. Hadir Ketua Harian DPW Perhiptani Bali, Ketua KTNA, Sekdes Mambal, Babinsa, Babinkamtibmas, dan mahasiswa KKN Universitas Warmadewa. Tapi hari itu, bukan pejabat yang jadi pusat perhatian. Petani-lah yang jadi pahlawan utama.
Ketua Harian DPW Perhiptani Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb., didaulat langsung sebagai moderator menegaskan, pentingnya inovasi dalam pertanian, terutama untuk komoditas yang memiliki prospek cerah seperti bawang merah.
“Pelatihan ini kami desain agar petani tidak hanya paham cara menanam, tapi juga menjaga lingkungan lewat penggunaan agensia pengendali hayati yang efektif dan aman,” ujarnya.
Pelatihan budidaya bawang merah yang diselenggarakan oleh DPW Perhiptani Bali itu bukan seperti seminar yang bikin ngantuk. Bahkan ketika tiga narasumber mulai bicara, para peserta bukannya lesu, tapi malah aktif—tertawa, bertanya, dan sesekali menyela. “Ice breaking”-nya bukan seperti pelatihan korporat, tapi candaan khas petani, begitu segar, spontan, dan penuh makna.
DPW Perhiptani Bali seperti menghidupkan api yang lama padam. Lewat pelatihan budidaya bawang merah dan pembuatan agensia hayati, 44 petani dari empat subak berubah dari penerima kebijakan menjadi pencipta solusi. Bukan hanya menyimak, mereka menantang narasumber “Kalau cuma teori, jangan buang waktu kami !”
Saya catat tiga nama penting yang bicara hari itu.
Pertama, Wayan Darmayuda, S.P., dari Bangli. Penyuluh sekaligus petani bawang merah yang menjelaskan soal teknik tanam dan manajemen lahan. Ia tidak pakai bahasa akademik. Ia bercerita soal gagal panen, soal cuaca, soal tanah, dan juga soal harapan yang tumbuh kembali.
Lalu, ada dua narasumbernya tangguh, I Dewa Nyoman Darmayasa, S.P., M.P., dan I Nyoman Widnyana Putra, S.P., Penyuluh dari Jembrana yang bicara tentang agensia hayati. Topik ini rumit, tapi mereka menyederhanakannya bagaimana mengendalikan penyakit dengan mikroorganisme baik, bukan dengan racun. Ramah lingkungan, kata mereka. Tapi saya lebih suka menyebutnya ramah masa depan.
Bahkan, suasana pelatihan seperti pasar mikroba. Mikroorganisme diperkenalkan seperti sahabat lama. “Dia tidak kelihatan, tapi dia bisa lawan penyakit. Tanpa racun,” kata mereka. Dan ruangan pun pecah dalam tepuk tangan.
Yang juga menarik, I Wayan Rarem 67 tahun, petani menggeluti bawang merah menuturkan, ini bukan sekadar pelatihan, tapi juga pembuka mata kami untuk bertani yang lebih modern dan berkelanjutan. “Saya akan coba metode ini di lahan saya. Meskipun saya tua begini, masih kenceng dan tetap semangat mengolah lahan. Jangan sampai terlantar. Pokoknya, jangan sampai ada tanah yang terlantar. Penyuluh adalah tulang punggung petani. Penyuluh Hebat !,” tuturnya penuh semangat.
Pelatihan ini pun, bukan sekadar transfer ilmu. Ini adalah pernyataan sikap bahwa petani tidak mau lagi jadi korban industri kimia. Bahwa mereka ingin berdamai dengan tanah, dan bertarung dengan mikroba sebagai pasukan.
Dan yang paling penting, tidak satu pun dari mereka tertidur saat pelatihan. Bahkan saat teori disampaikan, semua tetap melek. Bukan karena kopi, tapi karena mereka tahu masa depan mereka ada di antara larutan mikroba itu.
Melalui transfer teknologi dan praktik langsung, para petani diharapkan mampu mengadopsi inovasi pertanian berkelanjutan yang tidak hanya mengoptimalkan produksi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan Subak Mambal. Sinergi antara organisasi petani, pemerintah daerah, dan akademisi pun menjadi kunci sukses pelatihan ini.
Karena di tangan mereka—petani yang tangguh, penyuluh yang bergerak—masa depan pangan Indonesia tidak hanya aman. Tapi juga bermartabat. Humas
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0