Petani Menjadi “Ahli” di Sawah Sendiri
“Kami meyakini, pendekatan partisipatif ini akan menghasilkan program kaji terap budidaya bawang merah yang lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan selaras dengan kearifan lokal. Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas petani sehingga mereka tidak hanya menjadi pelaksana program, melainkan juga perencana, evaluator, dan pemilik penuh atas pembangunan pertanian di wilayahnya.”
Petani Menjadi “Ahli” di Sawah Sendiri
Di Subak Celuk, Subak Prejurit, dan Subak Peling, para petani tidak hanya menyiangi lahan atau menabur benih. Mereka duduk melingkar, berdiskusi, mencatat, dan saling bertukar pandangan. Pekan lalu, menjadi saksi bagaimana Participatory Rural Appraisal (PRA) atau identifikasi partisipatif mengubah cara petani melihat dan mengelola sawah mereka sendiri.
PRA, meski terdengar akademis, sebenarnya sederhana. Memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menganalisis kondisi mereka sendiri, menemukan masalah, dan merancang solusi secara partisipatif. Tidak ada jarak antara “pengelola program” dan “pelaksana”. Petani bukan sekadar pekerja di sawah, mereka menjadi pengambil keputusan, perencana, dan penilai.
Di Subak Celuk, I Wayan Antara memaparkan kondisi lahan, problematika hama, dan potensi yang bisa dikembangkan. Ia berbicara dengan lugas, menyebut tantangan nyata di lapangan. Curah hujan yang tidak menentu, ketersediaan pupuk organik, dan risiko serangan penyakit bawang merah.
Sementara itu, di Subak Peling, Ida Bagus Ketut Arjana menunjukkan peta potensi lahan dan rencana penggunaan teknologi tepat guna yang bisa dicoba secara lokal. Di Subak Prejurit, I Gusti Made Kaler menekankan pentingnya menjaga kearifan lokal, seperti rotasi tanam dan pemanfaatan sumber daya air secara tradisional, yang selama ini terbukti efektif.
Ni Kadek Sintya Dewi, SP, PPL wilayah binaan Desa Medahan, mengamati antusiasme petani dengan penuh kekaguman. “Mereka bukan hanya hadir untuk mendengarkan. Mereka berpikir, menilai, bahkan menawarkan solusi. Ini proses pembelajaran yang nyata,” katanya. Hasil PRA, menurut Sintya Dewi, akan menjadi dasar pelaksanaan kaji terap bawang merah yang lebih terarah dan sesuai kebutuhan lapangan.
Sementara itu, Agung Prijanto, SP, M.Agb, bersama Tim dari Balai Penerapan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali, yang memandu jalannya PRA menambahkan, Metode ini memberdayakan petani. Mereka belajar menganalisis kondisi lahan sendiri, menilai potensi, dan menyusun strategi budidaya yang tepat. Tidak lagi top-down. Semua lahir dari pengalaman dan kebutuhan mereka sendiri.
“Kami meyakini, pendekatan partisipatif ini akan menghasilkan program kaji terap budidaya bawang merah yang lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan selaras dengan kearifan lokal. Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas petani sehingga mereka tidak hanya menjadi pelaksana program, melainkan juga perencana, evaluator, dan pemilik penuh atas pembangunan pertanian di wilayahnya.” tutur Agung Prijanto sebagai koordinator wilayah Kabupaten Gianyar.
Manfaat PRA jelas terlihat. Petani belajar mengenali masalah dan potensi di sekitar mereka. Mereka juga menilai hasil kegiatan program sendiri, sehingga proses belajar tidak berhenti begitu saja. Lebih dari itu, PRA mendorong munculnya inovasi lokal yang relevan, yang sering kali lebih efektif daripada rekomendasi luar. Filosofinya sederhana tapi kuat Hari ini lebih baik dari kemarin, besok lebih baik dari hari ini.
Di akhir kegiatan, semangat partisipatif masih terasa. Diskusi berlangsung hangat, ide-ide tercatat di papan tulis, dan rencana kaji terap bawang merah pun mulai terbentuk. Dari Subak Celuk hingga Subak Prejurit, para petani pulang dengan satu keyakinan. Mereka bukan hanya menggarap tanah, tapi mengelola masa depan pertanian mereka sendiri.
Kontributor DPD Perhiptani Kabupaten Gianyar
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
1