Petani Sukawati Diajari Buat Pestisida Nabati di BPP Sukawati
10 penyuluh dan 25 petani di Sukawati, Gianyar, mengikuti Bimtek Tematik tentang pembuatan dan pemanfaatan pestisida nabati KISELA 866 serta bakteri fotosintesis. Kegiatan ini mendorong pertanian organik dan berkelanjutan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis
Suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sukawati, Selasa, 8 Juli 2025. Di sana, 10 penyuluh pertanian dan 25 petani dari Kecamatan Sukawati berkumpul, bukan hanya untuk belajar, tapi juga untuk berbagi semangat dan tekad memperbaiki cara bertani.
Bimbingan Teknis (Bimtek) Tematik kali ini mengangkat topik yang sangat relevan “Pembuatan dan Pemanfaatan Pestisida Nabati serta Bakteri Fotosintesis.” Di tengah isu kerusakan tanah dan ketergantungan petani terhadap bahan kimia sintetis, materi seperti ini adalah angin segar yang sangat dinantikan.
Kegiatan dibuka oleh Plt. Kabid Penyuluhan Dinas Pertanian Gianyar, Ni Nyoman Apriani, SP. Dalam sambutannya yang meyakinkan, beliau menekankan pentingnya teknologi ramah lingkungan sebagai masa depan pertanian. “Pestisida nabati dan bakteri fotosintesis adalah alternatif yang tepat untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis, sekaligus menjaga harmoni dengan alam,” ujarnya ibu berparas ayu penuh keyakinan.
Tak hanya itu, kehadiran Ir. I Wayan Wiraga, Ketua DPD Perhiptani Gianyar, membawa sentuhan emosional tersendiri. Dengan nada yang hangat namun tegas, beliau menyampaikan bahwa penyuluh harus menjadi sahabat bagi petani. “Jujur, terbuka, dan tidak banyak janji,” pesannya. Sebuah nasihat yang sederhana tapi mengandung makna mendalam.
Materi Bimtek disampaikan oleh para narasumber yang bukan hanya kompeten. Koordinator BPP Sukawati, Ni Ketut Poliadi SP., hadir sebagai srikandi penyuluh yang selalu energik. Ia didampingi oleh praktisi pertanian organik I Ketut Punia, Pande Ketut Wija Negara, dan petani inspiratif I Wayan Ristam. Mereka berbagi ilmu tentang pembuatan pestisida nabati berbasis lokal yang dinamakan KISELA 866, racikan dari Kipahit, serai, dan lengkuas—bahan yang mudah didapat namun penuh khasiat.
Tidak hanya teori, para peserta juga diajak praktik langsung di lapangan. Salah satu sesi yang paling disukai adalah fermentasi dan kultur bakteri fotosintesis, yang dapat berfungsi sebagai pupuk hayati sekaligus agen pengendali hayati. Teknologi ini menjadi salah satu jawaban atas tantangan regenerasi tanah dan ketahanan tanaman secara alami.
Antusiasme peserta terlihat jelas, mulai dari sesi presentasi hingga praktik. Beberapa bahkan menyampaikan bahwa mereka siap menerapkan apa yang mereka pelajari di lahan sendiri. “Kami merasa mendapatkan bekal baru yang langsung bisa kami terapkan di sawah kami,” ungkap seorang petani.
Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif dan pembagian modul sebagai panduan untuk praktik lanjutan. Modul ini menjadi harapan agar ilmu yang dibagikan tidak berhenti di ruang pelatihan, tapi menyebar ke seluruh pelosok desa. (sintya)
Kontributor DPD Perhiptani Gianyar
Ni Kadek Sintya Dewi, SP
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0