Dari "Disc Jockey," ke Petani Organik
Ia mantan DJ yang dulu hidup di bawah gemerlap lampu klub malam, kini menabuh harmoni baru di sawah Jembrana. Ia membuktikan bahwa pertanian bisa sekeren panggung music, asal digarap dengan hati dan inovasi. Siapa dia ?
Dari "Disc Jockey," ke Petani Organik
I Komang Yudha Nugraha dulu hidup di bawah sorotan lampu klub malam. Dentuman musik EDM dan riuh tepuk tangan pengunjung adalah kesehariannya.
Kini, pria asal Kelurahan Baler Bale Agung, Kabupaten Jembrana, itu justru akrab dengan gemericik air sawah dan hijaunya tanaman padi. Siapa sangka, perjalanan dari meja DJ "Disc Jockey," ke pematang sawah justru menuntunnya menemukan harmoni baru pertanian organik.
Dari Panggung Hiburan ke Tanah Subur
Komang Yudha bukan berasal dari keluarga petani. Ayahnya anggota TNI AD, sementara saudara-saudaranya banyak berkarier di dunia bisnis dan politik.
Jalannya semula pun jauh dari dunia pertanian.
Tahun 1995, ia merantau ke Jakarta dan meniti karier sebagai DJ profesional. Selama empat setengah tahun, malam-malamnya dihabiskan di depan turntable dan mixer, menghidupkan suasana klub dengan sentuhan khasnya.
Tahun 2000, ia pindah ke Denpasar, melanjutkan profesinya sebagai DJ hingga lima tahun berikutnya. Setelah itu, ia pulang ke Jembrana dan mengelola bar serta Hotel Ratu selama delapan tahun. Dunia hiburan benar-benar menjadi rumahnya.
Sampai akhirnya, hidup membawanya ke arah yang sama sekali berbeda.
Awal Perubahan
Perubahan besar itu bermula ketika saudaranya membuka usaha agrobisnis bernama UD Alam Wangi, yang mengelola plasma pepaya Thailand dan tambak udang bersama PT Behn Meyer. Kantor usaha tersebut berdiri tepat di samping rumah Yudha. Ia pun dipercaya menjadi pimpinan usaha itu.
Sejak saat itu, pikirannya mulai terbuka. Ia mengikuti berbagai seminar pertanian di Bogor dan Malang, bertemu banyak praktisi dari seluruh Indonesia.
Ia belajar tentang budidaya, pengendalian OPT, pupuk organik, hingga teknik pengolahan tanah ramah lingkungan.
Pengalaman sebelumnya di dunia tambak udang memberinya bekal dalam penggunaan probiotik. Dari sana, ia mulai bereksperimen meracik inovasi hayati untuk pertanian.
Tahun 2013 menjadi titik balik. Ia meninggalkan dunia hiburan dan menapaki jalan baru menjadi petani organik.
Panen Inovasi
Kini Yudha mengelola dua hektare lahan dengan komoditas utama padi, jagung, dan cabai. Ia juga mengembangkan agrowisata anggur seluas 30 are di dekat rumahnya. Pekarangan rumahnya ibarat laboratorium hidup—tempat tumbuh aneka tanaman: bawang, tomat, stroberi, melon, alpukat, anggur, hingga kembang kol.
Hasilnya luar biasa. Panen terakhir mencapai 7,5 ton padi per hektare, angka yang tinggi untuk pertanian ramah lingkungan. Di kalangan Subak, Yudha dikenal sebagai petani inovatif.
Ia memproduksi pupuk organik cair, air lindi, asam amino, hingga Jakaba di rumahnya sendiri. Ia juga mengembangkan agensia hayati seperti Trichoderma, Beauveria bassiana, dan Paenibacillus.
Gerakannya menular. Banyak warga kini ikut memilah sampah organik, membuat pupuk sendiri, dan menanam sayuran di pekarangan. Produk Jakaba buatannya bahkan sudah digunakan oleh petani cabai hingga ke Kabupaten Buleleng.
Dari DJ ke Wakil Kelian Subak
Kini ritme hidup Yudha berubah total. Pagi hari ia meninjau sawah, siang hari bereksperimen di pekarangan. Setiap dua minggu sekali, ia memimpin administrasi Subak sebagai Wakil Kelian.
Meski begitu, kecintaannya pada musik dan otomotif tak pernah pudar. Ia masih aktif di IMI dan IOF, menyalurkan semangat yang dulu ia bawa di panggung ke dunia pertanian.
Dalam perjalanannya, peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sangat besar.
“PPL membantu saya menemukan inovasi, mengatasi hama penyakit, mengelola tanah, sampai urusan administrasi Subak,” jelasnya.
PPL juga membantu menyuarakan inovasi Yudha ke pemerintah daerah, menulis berita kegiatan Subak, dan mempromosikan produk petani. Mereka bahkan ikut mengecek kualitas produknya, dari populasi mikroba hingga kerapatan spora agensia hayati.
Semangat untuk Anak Muda
Yudha berharap semakin banyak anak muda yang berani mencoba bertani. “Dari pertanian pun hidup saya cukup. Sekarang banyak sistem modern seperti greenhouse, hidroponik, atau aquaponik. Yang penting mau mencoba,” pesannya.
Ke depan, ia bercita-cita membuka pelatihan pertanian organik bagi petani Jembrana serta melakukan uji laboratorium lebih lengkap untuk produk hayati racikannya.
Perjalanan hidup I Komang Yudha membuktikan, perubahan besar bisa lahir dari keberanian menempuh jalan baru. Dari dentuman musik malam, ia beralih ke irama alam.
Dari DJ menjadi petani—dan dari sawah kecilnya, ia menabur inspirasi bagi generasi muda bahwa bertani bisa menjadi profesi yang modern, kreatif, dan membanggakan.
Koresponden NDN DPD Perhiptani Jembrana
What's Your Reaction?
Like
3
Dislike
0
Love
1
Funny
1
Angry
0
Sad
0
Wow
1