I Gede Adnyana: Kiprah Sang Pekaseh Subak Delod Sema

Meninggalkan gemerlap dunia pariwisata, memilih jalan sunyi sebagai pekaseh Subak Delod Sema, Sading, Mengwi, Badung Bali. Dari lahan seluas 83 hektare, ia menumbuhkan semangat gotong royong, menekuni penangkaran benih unggul, dan menjaga napas tradisi pertanian Bali di tengah arus modernisasi.

Oct 19, 2025 - 00:28
Oct 19, 2025 - 05:15
 0  30
I Gede Adnyana:  Kiprah Sang Pekaseh Subak Delod Sema

I Gede Adnyana:

Kiprah Sang Pekaseh Subak Delod Sema

Di tengah gemerlap pariwisata Bali yang terus menggeliat, ada sosok yang memilih jalan berbeda. Ia bukan pengelola vila, bukan pula pemandu wisata melainkan seorang penjaga tradisi agraris Bali yang kini disegani. Namanya I Gede Adnyana, pria asal Sading, Mengwi, Badung, yang kini dikenal sebagai pekaseh atau pemimpin Subak Delod Sema.

Namun, siapa sangka perjalanan hidupnya tak selalu bermimpi dengan lumpur dan padi. Lulusan Sekolah Menengah Pertanian Atas (SPMA) Singaraja tahun 1984 ini baru saja sempat menapaki karir di bidang yang sama sekali berbeda. “Awalnya saya bekerja di biro jasa,” kenang Adnyana.

Tak lama kemudian, ia mencoba keuntungan di sektor pariwisata dunia yang kala itu menjanjikan. Selama 12 tahun ia bekerja di sejumlah hotel di kawasan Kuta, lalu sempat pindah ke Ubud pada periode 2000–2002.

Meski kariernya di sektor pariwisata cukup mapan, panggilan jiwa untuk kembali ke tanah kelahiran tidak bisa dibendung. Tahun 2008 menjadi titik balik kehidupannya. Adnyana kembali ke sawah, tempat di mana akar kehidupannya bermula, dan dipercaya memimpin Subak Delod Sema, sebuah lembaga pengairan tradisional khas Bali.

“Waktu pertama saya percaya memimpin subak, bale subak belum punya apa-apa,” sambil tersenyum mengenang masa awal. Dengan wilayah garapan seluas 83 hektare, Adnyana memulai langkah pembenahan dari nol. Perlahan, berkat kerja sama antarp krama subak (petani) dan semangat gotong royong, fasilitas serta sistem pengelolaan di Subak Delod Seman mulai tertata dan berkembang pesat.

Dari Sawah Muncul “Manik Galih”

Seiring perjalanan waktu, Adnyana tak hanya mengelola air dan sawah. Ia mulai melirik potensi besar lain, penangkaran benih padi unggul. Di bawah bimbingan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan dukungan dari dinas serta instansi terkait, ia menekuni bidang ini secara serius hingga akhirnya mendapat izin resmi sebagai penakar benih pada tahun 2013.

Pada tahun yang sama, Adnyana menargetkan produksi perdana sebesar 50 ton benih padi. Namun hasilnya justru melampaui ekspektasi mencapai 53,5 ton benih. Produksi unggulan itu kemudian dipasarkan di bawah branding “Manik Galih”, hasil produksi Subak Delod Sema, Sading, Mengwi, Badung.

Kualitas benih “Manik Galih” segera mendapat pengakuan luas. Berbagai subak di Bali mulai memesan dan menggunakan hasil produksinya. Tak hanya itu, Subak Delod Seman juga kerap menerima tawaran kerja sama dalam pengembangan perbenihan serta kunjungan studi dari berbagai daerah dan instansi.

Salah satu kunjungan mengesankan datang dari Kementerian Pertanian Timor Leste, yang tertarik mempelajari tata kelola subak dan sistem penangkaran benih di bawah kepemimpinan Adnyana. “Bagi saya, subak bukan hanya lembaga adat pertanian, tetapi juga ruang belajar tentang kebersamaan dan keseimbangan alam,” ujarnya penuh keyakinan.

Menjaga Warisan Nenek Moyang di Tengah Modernisasi

Kini, setelah lebih dari 16 tahun mengabdi, Adnyana telah memasuki masa keempat sebagai pekaseh. Jabatan yang diperbarui setiap lima tahun ini bukan sekadar amanah, melainkan bentuk kepercayaan masyarakat atas dedikasinya menjaga kelangsungan pertanian tradisional di tengah derasnya arus modernisasi.

Ia terus mendorong kolaborasi dengan petani muda, memperkuat sistem perbenihan lokal, serta mengintegrasikan teknologi pertanian tanpa meninggalkan nilai-nilai Tri Hita Karana harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

“Menjadi pekaseh bukan soal jabatan, tapi pengabdian. Subak adalah kehidupan yang harus dijaga bersama,” tutur Adnyana menutup pembicaraan.

Dengan semangat inovatif dan kepemimpinan yang kuat, I Gede Adnyana menjadi sosok inspiratif yang memadukan nilai tradisi dan modernitas demi kemandirian petani Bali, serta membuktikan bahwa dari sawah pun lahir benih-benih kemajuan.

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0