I Made Widnyana: “Dari Barista ke POPT, Meracik Semangat di Lahan Petani”
I Made Widnyana:
“Dari Barista ke POPT, Meracik Semangat di Lahan Petani”
Siapa sangka, di balik sosok tenang dan bersahaja I Made Gede Widnyana, S.TP, tersimpan kisah perjalanan panjang menuju dunia pertanian. Pria asal Banjar Piakan, Sibangkaja, Abiansemal, Badung, Bali, ini membuktikan bahwa jalan hidup tak selalu lurus, namun setiap tikungan membawa pelajaran berharga.
Lulusan Universitas Udayana tahun 2016 ini, awalnya tak langsung menapaki dunia pertanian. Selepas kuliah, Widnyana sempat bekerja di industri jasa. Tahun 2017, ia bergabung sebagai barista di bandara. Dunia kopi sempat menjadi kesehariannya melayani pelanggan, meracik rasa, hingga memahami filosofi di balik secangkir espresso.
Namun, pandemi COVID-19 pada 2019 mengubah segalanya. Aktivitas bandara terhenti, dan Widnyana harus menghadapi kenyataan pahit, diberhentikan dari pekerjaannya.
“Waktu itu saya sempat bingung harus mulai dari mana lagi. Tapi saya percaya, kalau kita mau belajar, pasti ada jalan,” kenangnya.
Dunia Pertanian
Titik balik itu datang saat ia mendapat tawaran dari Dinas Pertanian Kota Denpasar pada tahun 2020. Ia bergabung sebagai tenaga kontrak, sebuah kesempatan baru yang membawanya kembali ke akar bidang studinya. “Awalnya saya belum terbiasa lagi dengan pekerjaan lapangan. Tapi begitu terjun, rasanya seperti menemukan rumah sendiri,” ujarnya sambil tersenyum.
Setahun berselang, Widnyana dipercaya membantu Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT). Salah satu petugas POPT purna tugas, dan ia pun ditugaskan mendampingi kegiatan di lapangan. “Dulu saya tidak begitu paham soal pengendalian OPT. Tapi saya belajar terus dari para senior dan dari pengalaman langsung di sawah,” katanya.
Menurutnya, setiap lokasi memiliki tantangan berbeda. “Ada yang hama utamanya wereng, ada ulat grayak, ada juga pengaruh cuaca dan jenis tanah. Jadi, pengendalian tidak bisa diseragamkan. Kita harus cermat melihat gejalanya,” jelasnya.
Baginya, kepuasan terbesar bukan pada jabatan atau status, melainkan melihat tanaman yang semula sakit kembali tumbuh sehat. “Melihat padi yang tadinya rusak karena serangan hama kemudian pulih setelah dilakukan pengendalian yang tepat, itu rasa bangganya luar biasa,” ujarnya tulus.
Warisan Pengabdian dari Sang Ayah
Semangat itu ternyata mengalir dari darah keluarganya. Ayahnya, I Made Jaya, adalah pensiunan penyuluh pertanian yang terakhir bertugas di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Denpasar Selatan.
“Bapak selalu bilang, jadi penyuluh itu bukan sekadar pekerjaan. Itu panggilan untuk membantu petani agar hidup lebih baik,” kenang Widnyana.
Kini, ia bertekad meneruskan semangat itu. Bagi Widnyana, pertanian bukan sekadar profesi, melainkan bentuk cinta terhadap bumi dan kehidupan.
Kini, setiap hari Widnyana aktif mendampingi petani, mengamati kondisi tanaman, dan memastikan pengendalian hama berjalan efektif. Bersama penyuluh, berdialog dengan petani, dan memastikan setiap masalah di lahan mendapat perhatian.
Baginya, menjadi bagian dari rantai pengabdian di sektor pangan adalah kebanggaan tersendiri.
“Petani adalah pahlawan yang sesungguhnya. Dan saya bersyukur bisa ikut menjaga kesejahteraan mereka,” ujarnya menutup percakapan. (Trio.B)
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0