Made Budiasa: “Panen Teknologi di Usia Senja”
Tak semua orang mampu menanam harapan di usia senja, tapi Drs. Made Budiasa, BA, asal Buleleng, Bali justru menumbuhkan masa depan di tanahnya sendiri. Beliau pensiunan guru agama, menjelma menjadi pelopor pertanian modern di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng dengan menggabungkan nilai-nilai ketekunan, spiritualitas, dan teknologi.
Made Budiasa:
“Panen Teknologi di Usia Senja”
Tak semua orang mampu menanam harapan di usia senja, namun Drs. Made Budiasa, BA (69), justru menumbuhkan masa depan di tanahnya sendiri. Beliau pensiunan guru agama, mengajar di SMP I Banjar, pada tahun 2016 ini menjelma menjadi pelopor pertanian modern di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng Bali dengan menggabungkan nilai-nilai ketekunan, spiritualitas, dan teknologi.
Ladang Inovasi
Setelah resmi pensiun, Made Budiasa memilih jalan sunyi yang justru membawa ke cahaya baru, bertani. Di atas lahan milik pribadinya seluas 75 are, ia awalnya menanam berbagai tanaman secara tradisional. Namun, dorongan untuk terus belajar membuatnya berani mencoba hal baru.
Bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wilbin Desa Banjar, Shinta Istihsan, SP, ia mulai mengenal konsep pertanian modern berbasis teknologi presisi. Dukungan dari pemerintah daerah pun mengalir dalam bentuk fasilitas dan pendampingan untuk mengembangkan sistem pertanian cerdas di desanya.
Teknologi Canggih
Tidak ada perubahan itu terwujud dalam pembangunan rumah kasa (rumah kasa) di atas lahan seluas 3 are. Bangunan modern ini bukan sekadar pelindung tanaman, namun ruang inovasi yang dilengkapi irigasi cerdas berbasis Internet of Things (IoT) sistem cerdas yang mampu memadukan suhu, kelembapan, serta mendistribusikan udara dan pupuk secara otomatis.
“Kalau dulu kami hanya menebak-nebak kapan menyiram dan memupuk, sekarang sistem sudah membantu semuanya. Hasilnya lebih bagus dan efisien,” tutur Made Budiasa sambil tersenyum sambil memetik satu tandan anggur segar.
Di bawah rumah kasa itu tumbuh subur berbagai anggur introduksi (anggur meja) seperti Everes, Trans, Gosv, Akademik, dan Taldun varietas yang dikenal bernilai ekonomi tinggi. Tak berhenti di situ, ruang kosong di sekitar anggur juga dimanfaatkan untuk menanam jambu dan buah bidara dengan sistem tabulapot, memungkinkan panen berulang tanpa mengganggu tanaman utama.
Panen Manis, Harga Tinggi
Kini hasil panen kebun Made Budiasa menjadi kebanggaan warga Banjar. Dengan kualitas buah yang terjaga, harga jual rata-rata mencapai Rp35.000 per kilogram, tergantung pada grade atau mutu buahnya.
Sebagian hasil panen diolah menjadi produk lokal unggulan seperti sari buah anggur, dodol, dan brem, yang menambah nilai ekonomi sekaligus menjadi solusi saat panen berlimpah.
“Bapak Made bukan hanya menanam anggur, tapi juga semangat baru bagi petani di Banjar,” puji Shinta Istihsan, SP. “Beliau membuktikan bahwa teknologi bisa bersanding dengan kearifan lokal.”
Menanam Nilai, Menuai Masa Depan
Kini, di balik rindangnya daun anggur dan tabulapot buah bidara, tersimpan kisah tentang ketekunan, pembelajaran, dan adaptasi. Dari seorang guru yang dulu menanam nilai-nilai spiritual di hati muridnya, kini ia menanam nilai yang sama di tanahnya sendiri nilai kerja keras, kesabaran, dan rasa syukur.
Made Budiasa bukan sekadar petani. Ia adalah guru kehidupan, yang membuktikan bahwa kemajuan bukan soal usia, tetapi tentang kemauan untuk belajar dan berinovasi.
What's Your Reaction?
Like
8
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0