Menakar Profesionalisme Penyuluh Ajang Bergengsi Penyuluh Pertanian Berprestasi 2025

DPW PERHIPTANI Bali gelar Penilaian Kinerja Penyuluh Pertanian Berprestasi untuk menyeleksi tiga finalis: I Gede Januartha (Karangasem), Ni Kadek Sintya Dewi (Gianyar), & Reni Lamtauli Pakpahan (Jembrana).

Aug 10, 2025 - 18:23
 0  23
Menakar Profesionalisme Penyuluh  Ajang Bergengsi Penyuluh Pertanian Berprestasi 2025

Saya pernah heran. Mengapa profesi yang begitu dekat dengan rakyat kecil — petani — justru jarang sekali disorot? Padahal di balik sejumput hasil panen yang meningkat, selalu ada tangan dingin seorang penyuluh.

Tahun 2025, mereka tak lagi diam. Mereka maju. Naik ke panggung. Bukan sekadar untuk dipuji, tapi diuji. Ajang bergengsi itu bernama : Penilaian Kinerja Penyuluh Pertanian Berprestasi. Versi DPW  PERHIPTANI Bali. Bukan lomba biasa. Ini tentang siapa yang paling nyata jejaknya di lumpur sawah, paling aktif mendengar keluhan petani, dan paling konsisten menyalurkan pengetahuan baru ke desa-desa sunyi.

Pesertanya ? Bukan orang sembarangan. Mereka anggota aktif PERHIPTANI. Organisasi profesi yang selama ini sepi pemberitaan, tapi punya dedikasi yang tak diragukan. Mereka punya satu kesamaan integritas. Kinerja mereka baik. Bukan di atas kertas, tapi di medan lapang binaan yang sesungguhnya.

Tiga finalis yang akan diverifikasi langsung ke wilayah binaannya. I Gede Januartha, S.P. wakil dari DPD PERHIPTANI Kabupaten Karangasem. Dan dua nama lainnya Ni Kadek Sintya Dewi, S.P., DPD PERHIPTANI Kabupaten Gianyar dan Reni Lamtauli Pakpahan, S.P., DPD PERHIPTANI Kabupaten Jembrana.

Penilaiannya pun dua tahap, administrasi dan presentasi. Lalu, yang paling penting verifikasi lapangan. Di sini, tak bisa mengada-ngada. Apa yang ditulis harus bisa dijumpai di wilayah binaan.

 

Saya menyukai bagian ini, penilaian dilakukan secara objektif, transparan, dan terukur. Tiga kata yang paling langka dalam dunia lomba-lombaan birokrasi kita. Tapi kali ini, dijaga betul oleh orang-orang berkelas.

 

Ada Prof. Dr. Ir. I Dewa Putu Oka Suardi, M.Si. Guru Besar dan pemikir tulen dunia penyuluhan. Ada juga Dr. Ir. I Wayan Alit Artha Wiguna, M.Si., eks penyuluh utama dan pemberdaya petani kakao. Serta Dr. I Gede Setiawan Adi Putra, S.P., M.Si., akademisi yang tahu bahwa penyuluh bukan sekadar profesi, tapi perpanjangan tangan negara ke pelosok-pelosok.

Mereka bertiga bukan hanya menilai. Mereka menanam kembali martabat profesi penyuluh. Mereka ingin penyuluh kembali jadi tokoh. Bukan pelengkap. Bukan pengekor. Tapi pionir perubahan.

 

“Jagalah marwah profesi kita,” kata Gede Setiawan.

Dan Oka Suardi menimpali, “Kualitas SDM penyuluh harus terus ditingkatkan.”

 

Alit Artha Wiguna menekankan, “Penilaian ini bukan semata-mata untuk mengevaluasi pelaksanaan tugas para penyuluh pertanian, tetapi lebih jauh lagi—untuk mendorong peningkatan profesionalisme, menumbuhkan kreativitas, serta menghasilkan dampak nyata dari kegiatan penyuluhan. Tujuannya jelas meningkatkan kapasitas petani dan memperkuat kelembagaan mereka di wilayah binaan. Karena sejatinya, penyuluh adalah agen perubahan di akar rumput yang harus terus diperkuat dan diberdayakan.”

 

Saya setuju.

 

Apalagi saat tahu bahwa hasil penilaian ini bukan cuma soal penghargaan. Tapi bisa jadi dasar pembinaan dan pengambilan kebijakan karier.

 

Akhirnya, saya cuma ingin bilang satu hal. Penyuluh pertanian, Anda tidak sendiri. Negara sedang memperhatikan. Petani menunggu. Dan sejarah akan mencatat, siapa yang pernah benar-benar hadir di tengah mereka. Humas

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0