Petani Temukus, Simbul Lahirnya Pertanian Modern
Bukan sekadar soal alat, tetapi tentang cara berpikir baru dalam bertani. Dari tradisi menanam manual menuju era pertanian cerdas berbasis teknologi Mereka mulai percaya bahwa modernisasi bukan ancaman, melainkan jalan menuju kemandirian dan kesejahteraan.
Petani Temukus, Simbul Lahirnya Pertanian Modern
Dari tradisi menanam manual menuju era pertanian cerdas berbasis teknologi
Pagi itu, udara di Subak Temukus, Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, terasa berbeda. Suara mesin menggantikan gemericik langkah kaki di lumpur sawah. Di tengah hamparan itu, I Ketut Jaya Santika, seorang petani setempat, tampak fokus mengendalikan rice transplanter alat tanam padi modern yang menjadi simbol lahirnya era baru bagi petani di Temukus.
Pekan lalu, Ketut menjadi petani pertama di Subak Temukus yang mengujicobakan penanaman padi varietas unggul Inpari 32 dengan teknologi rice transplanter di lahan miliknya seluas 10 are (0,1 hektare). Langkahnya bukan sekadar percobaan teknis, tetapi bentuk nyata keberanian petani lokal menembus batas tradisi menuju pertanian modern.
“Kalau dulu untuk lahan segini, bisa dua hari baru selesai tanam. Sekarang dengan mesin ini, dalam hitungan jam sudah selesai. Jarak tanamnya seragam, dan hasilnya lebih rapi,” ujar Ketut tersenyum sambil menatap barisan padi muda yang tertanam lurus seperti ditarik penggaris.
Dengan sistem pembibitan dapog (matras) yang digunakan, proses penanaman menjadi lebih efisien. Bibit padi yang ditanam di atas media tipis membentuk lembaran akar padat yang mudah diambil oleh garpu penanam mesin. Hasilnya, tanaman tumbuh seragam, kuat, dan cepat beradaptasi.
Keberanian Ketut ini mendapat apresiasi dari banyak pihak. Perbekel Desa Temukus, Made Karuna, menyebut langkah ini sebagai contoh nyata perubahan pola pikir petani.
“Kami bangga dengan semangat petani kami, terutama Pak Ketut. Ia berani mencoba hal baru. Modernisasi seperti ini penting agar generasi muda kembali tertarik ke dunia pertanian,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator BPP Banjar, Wayan Suwastawa Giri, S.P, menegaskan bahwa uji coba ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mendorong mekanisasi dan efisiensi pertanian.
“Rice transplanter bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga presisi dan efisiensi biaya. Dengan alat ini, petani bisa menanam lebih banyak lahan dengan waktu yang sama, dan hasil panen pun berpotensi meningkat,” jelasnya.
Pendampingan teknis dilakukan langsung oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Shinta Istihsan, S.P. Ia menjelaskan, rice transplanter bekerja optimal jika pembibitan dilakukan dengan benar.
“Kunci keberhasilan ada pada bibit. Dengan sistem dapog, akar bibit saling menyatu, sehingga mesin dapat menancapkan bibit secara presisi pada jarak dan kedalaman yang sama. Ini mendukung pola tanam Jajar Legowo yang terbukti meningkatkan hasil produksi,” terang Shinta.
Selain itu, keterlibatan Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) memastikan pengendalian hama dan penyakit tetap terjaga, sementara kehadiran Babinsa menunjukkan dukungan penuh TNI dalam menjaga ketahanan pangan di wilayah.
Bagi Ketut, perubahan ini bukan sekadar soal alat, tetapi tentang cara berpikir baru dalam bertani.
“Mesin ini bukan menggantikan petani, tapi membantu kami bekerja lebih cepat dan lebih hemat. Yang penting kita mau belajar dan menyesuaikan diri,” ujarnya mantap.
Kini, semangat Ketut mulai menular ke rekan-rekan petani lain di Subak Temukus yang beranggotakan 79 orang dengan luas lahan 37,8 hektare. Mereka mulai percaya bahwa modernisasi bukan ancaman, melainkan jalan menuju kemandirian dan kesejahteraan.
Langkah kecil dari sawah milik I Ketut Jaya Santika telah menjadi inspirasi besar. Ia membuktikan bahwa petani bukan hanya pelaku tradisi, tetapi juga agen perubahan. Dari Desa Temukus, angin pembaruan itu berhembus membawa harapan baru bagi pertanian Buleleng yang lebih modern, produktif, dan membanggakan.
Koresponden Shinta DPD Perhiptani Buleleng
What's Your Reaction?
Like
6
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0