“Sinkronisasi LTT, Kelsi Bali Rapatkan Barisan”
Dalam rangka meningkatkan akurasi data dan efektivitas program pertanian, Kelasi Provinsi Bali menggelar pertemuan koordinasi terkait sinkronisasi Luas Tambah Tanam (LTT).
“Sinkronisasi LTT, Kelsi Bali Rapatkan Barisan”
Kelsi Penyuluhan Pertanian Provinsi Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, SP., M.Agb., menekankan pentingnya evaluasi dan sinkronisasi program penyuluhan pertanian di seluruh wilayah Bali. Hal tersebut dinilai krusial untuk menyamakan langkah dan persepsi para penyuluh pertanian dalam mendukung pelaksanaan program strategi pembangunan pertanian. Penegasan itu disampaikan dalam pertemuan yang digelar pada kamis (5/2) siang , melalui zoom meeting .
Pertemuan tersebut juga membahas peran Ketua Tim Kerja (Katimker) Penyuluhan Pertanian dalam mengoordinasikan seluruh pelaksanaan program di tingkat kabupaten/Kota se-Bali, khususnya terkait pelaporan Luas Tambah Tanam (LTT) . Disampaikan bahwa data LTT yang masuk di tingkat provinsi harus telah terverifikasi paling lambat pukul 15.00 WITA , mengingat adanya permintaan data lanjutan pada pukul 15.30 WITA untuk pelaksanaan rapat koordinasi rutin LTT yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Dirjen TP) .
Fokus utama pembahasan diarahkan pada sinkronisasi laporan LTT yang diinput oleh penyuluh pertanian, dengan penekanan bahwa data yang dilaporkan harus mencerminkan realisasi riil di tingkat Wilayah Kerja Penyuluh (WKP). Arya Sudiadnyana pun menegaskan, agar penyusunan target tidak bersifat asumsitif atau terlalu besar, namun harus benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.
Ia mengingatkan bahwa di tingkat wilayah kerja sering ditemui berbagai kendala, seperti pola tanam yang belum sesuai, kesiapan olah tanah, keterbatasan irigasi, maupun faktor teknis lainnya. Oleh karena itu, setiap laporan dan target LTT harus disertai justifikasi yang kuat dan bersumber dari kondisi riil di bawah, bukan sekadar target administratif.
Selain sinkronisasi LTT, penyuluh pertanian juga diharapkan tidak hanya fokus pada pelaporan, tetapi melakukan ground check Luasan Baku Sawah (LBS) di wilayah kerja masing-masing. Ground check ini penting untuk memastikan apakah lahan masih dapat ditanami padi, telah beralih ke komoditas lain, atau bahkan telah mengalami alih fungsi lahan, mengingat derasnya alih fungsi lahan pertanian di Bali.
Arya Sudiadnyana juga berharap, seluruh penyuluh pertanian meningkatkan koordinasi, kedisiplinan dalam pelaporan, serta terus aktif melakukan pendampingan kepada petani, khususnya dalam menangani permasalahan pupuk dan mendukung pelaksanaan program strategi pertanian yang menjadi prioritas pemerintah pusat dan daerah.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Ketua Tim Kerja (Katimker), perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten/Kota se-Bali, serta perwakilan dari BBRMP Bali, sebagai bentuk sinergi lintas sektor dalam mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan dan berbasis data faktual. (jikwid)
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0