Subak Pulagan Menolak Tumbang
Tampaksiring selama ini lebih dikenal sebagai tempat melukat ritual penyucian diri yang sakral. Namun, di balik citra spiritual itu, desa ini juga menyimpan warisan dunia yang tak kalah penting. Subak Pulagan, sistem irigasi tradisional yang tetap lestari di tengah derasnya arus pariwisata.
Subak Pulagan Menolak Tumbang
Warisan dunia di Tampaksiring ini bertahan di tengah tekanan alih fungsi lahan. Petani butuh lebih dari sekadar pujian mereka menunggu keberpihakan nyata.
Kabut pagi menyelimuti hamparan sawah di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Pekerisan, Tampaksiring. Air mengalir tenang, membelah petak-petak sawah yang tersusun rapi dalam terasering. Lanskap ini bukan hanya indah, ia diakui dunia sebagai bagian dari warisan budaya oleh UNESCO.
Namun, keindahan itu menyimpan cerita yang tak selalu tenang.
Subak Pulagan hari ini berdiri di antara dua arus besar, tradisi yang ingin dipertahankan, dan modernitas yang terus mendesak masuk. Di luar kawasan, pembangunan akomodasi pariwisata tumbuh cepat. Harga tanah melonjak. Tawaran investasi datang silih berganti.
Tetapi di dalam subak, petani masih menanam padi.
“Banyak yang tanya, kenapa tidak dijual saja. Jawabannya sederhana, ini bukan soal uang,” ujar Pekaseh Subak Pulagan, Sang Nyoman Astika.
Ia berhenti sejenak, memandang aliran air di saluran irigasi.
“Ini warisan. Kalau kami lepaskan, kami tidak hanya kehilangan tanah, tapi juga kehilangan jati diri,” lanjutnya.
Sebagai bagian dari lanskap budaya dunia, Subak Pulagan bukan sekadar sistem irigasi. Ia adalah representasi filosofi hidup masyarakat Bali harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Namun dalam praktiknya, menjaga harmoni itu tidak mudah.
Tekanan ekonomi kerap datang lebih kuat daripada nilai budaya. Ketika lahan di sekitar mulai beralih fungsi, subak menghadapi ancaman yang tidak kasat mata: penyusutan perlahan.
“Kalau satu-dua petak sawah dijual, mungkin tidak terasa. Tapi kalau terus terjadi, lama-lama sistem subak bisa terganggu,” kata Astika.
Ia menyebut, tantangan terbesar bukan hanya menjaga lahan, tetapi menjaga komitmen bersama.
Di tengah situasi itu, pemerintah mulai menunjukkan perhatian. Pada Jumat (27/03), Tim BPP Tampaksiring bersama Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar turun langsung ke Subak Pulagan. Kunjungan dipimpin Plt. Sekretaris Dinas Pertanian, Ni Made Yuliani Putri, S.P., M.Agb.
Bukan sekadar kunjungan formal, pertemuan berlangsung terbuka di tengah sawah. Petani menyampaikan langsung kebutuhan mereka dari infrastruktur hingga alat mesin pertanian.
“Kami ingin mendengar langsung. Supaya intervensi yang dilakukan benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar Yuliani.
Dari hasil diskusi, kebutuhan mendesak mulai terlihat jelas.
Jalan usaha tani yang juga difungsikan sebagai jalur tracking wisatawan memerlukan penataan. Kondisinya di beberapa titik mulai rusak. Di sisi lain, jaringan irigasi tersier juga membutuhkan rehabilitasi agar distribusi air tetap optimal.
“Kalau infrastruktur ini tidak segera diperbaiki, bukan hanya petani yang terdampak. Wisata juga ikut terganggu,” tegasnya.
Koordinator BPP Tampaksiring, I Nengah Surata Adnyana, S.P. melihat persoalan ini sebagai peluang sekaligus tantangan.
“Subak Pulagan punya nilai lebih. Lanskapnya indah, sistemnya masih terjaga. Ini sangat potensial untuk pertanian organik dan pengembangan beras merah,” jelasnya.
Menurutnya, tren pasar saat ini justru mengarah pada produk pertanian sehat dan berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, subak bisa menjadi kekuatan ekonomi baru tanpa harus kehilangan identitas.
Namun, ia mengingatkan, potensi tidak akan berkembang tanpa pendampingan yang konsisten.
Di lapangan, peran itu dijalankan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Tampaksiring, Nyoman Murdiana. Ia mendampingi petani dari proses tanam hingga panen, sekaligus menjembatani kebutuhan mereka dengan program pemerintah.
“Petani di sini sebenarnya sangat terbuka terhadap inovasi. Tapi mereka juga realistis alat dan fasilitas harus mendukung,” katanya.
Ia menyoroti kebutuhan mekanisasi yang masih terbatas. Hand tractor dan power thresher menjadi kebutuhan penting untuk meningkatkan efisiensi kerja.
“Kalau semua masih manual, biaya tenaga kerja tinggi. Petani bisa cepat lelah, bahkan kehilangan minat,” ujarnya.
Di tengah pembicaraan soal bantuan dan program, Astika kembali menegaskan satu hal, keberlanjutan.
Baginya, menjaga subak bukan proyek jangka pendek.
“Kami tidak butuh hanya datang, foto, lalu selesai. Kami butuh pendampingan yang berkelanjutan,” katanya.
Ia juga menyinggung soal regenerasi petani, isu yang mulai terasa nyata. “Anak muda sekarang banyak yang tidak mau ke sawah. Kalau ini tidak dipikirkan, subak bisa tetap ada, tapi tanpa petani,” ucapnya lirih.
Subak Pulagan hari ini seperti berdiri di persimpangan.
Di satu sisi, ia dipuji dunia sebagai warisan budaya. Di sisi lain, ia harus berjuang sendiri menghadapi tekanan ekonomi yang nyata.
Pengakuan dari UNESCO memang penting. Tetapi bagi petani, yang lebih penting adalah dukungan konkret, infrastruktur yang layak, akses alat modern, serta jaminan bahwa lahan mereka tetap dilindungi.
Karena pada akhirnya, subak bukan hanya soal masa lalu yang dibanggakan. Ia adalah tentang masa depan yang sedang dipertaruhkan. Dan di Subak Pulagan, para petani masih memilih untuk bertahan meski harus melawan arus.
Selama sawah masih ditanam dan air masih dialirkan, Subak Pulagan belum kalah.
Tapi pertanyaannya, sampai kapan petani bisa bertahan sendirian?
Koresponden: Surata
Editor:JikWid
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0