Terpesona Niman, I Wayan Rarem Bak Pahlawan Tua di Subak Mambal

Kisah inspiratif I Wayan Rarem, petani senior 67 tahun, yang semangat belajar di pelatihan budidaya bawang merah di Subak Mambal, Bali. Jenaka dan penuh gairah, ia buktikan semangat tak lekang oleh usia

Aug 10, 2025 - 14:38
Aug 14, 2025 - 05:46
 0  6
Terpesona Niman, I Wayan Rarem Bak Pahlawan Tua di Subak Mambal

Subak Mambal Jumat (1/8/2025) pagi itu seperti kampus terbuka. Tapi bukan kampus biasa. Para mahasiswanya tidak muda, tidak pula berseragam. Mereka berpenampilan apa adanya, dan berceloteh dalam bahasa petani yang segar. Tapi semangat belajar mereka tidak kalah dari anak kuliah.

Tiba-tiba, panggilan dari panggung “Siapa yang bisa jawab pertanyaan ini?”
Seorang lelaki tua berdiri mantap, tanpa ragu melangkah ke depan. Dialah I Wayan Rarem, 67 tahun. Kakinya masih cekatan, wajahnya penuh senyum. Ketika diberi pertanyaan seputar bawang merah dan mikroba, jawabannya mantap. Ia bukan hanya dapat bonus kecil, tapi juga tepuk tangan panjang. Bukan karena ilmunya paling tinggi, tapi karena semangat dan kepedeannya yang menular.

Rarem seperti simbol dari semangat pertanian Bali yang tak mau lekang oleh usia.
"Saya tua, tapi masih kuat, masih mau belajar. Tanah tidak boleh terlantar !" katanya lantang. Sambil menepuk dadanya sendiri. Panglima tua itu tidak sedang berpidato, tapi menggerakkan. Sekaligus menampar generasi muda yang lebih sibuk scroll HP daripada menggenggam cangkul.

Pelatihan budidaya bawang merah yang digelar oleh DPW Perhiptani Bali itu memang bukan acara seminar. Begitu tiga narasumber tampil, suasana berubah. Peserta malah semakin hidup. Ada yang menyela, ada yang tertawa, bahkan ada yang nyeletuk, “Kalau bisa bikin tape, masa gak bisa bikin mikroba ?” Seketika tawa meledak.

Di hadapan mereka bukan instruktur, tapi sesama petani—yang sudah lebih dulu meramu tanah dan ilmu. Ada Wayan Darmayuda, S.P., I Dewa Nyoman Darmayasa, S.P., M.P. dan I Nyoman Widnyana Putra, S.P. Ia bicara soal bawang merah seperti seorang komandan membaca taktik perang ladang. Mereka menyulap istilah “agensia hayati” menjadi cerita tentang mikroba yang baik hati.

Dari sekian puluh peserta, yang paling menyita perhatian bukan penyuluh, bukan kepala desa, apalagi pejabat. Tapi seorang petani tua bernama I Wayan Rarem. Yang tampil seperti pendekar, bukan karena pakaiannya, tapi karena hatinya yang tidak tua. Saat sesi praktik dimulai, tangan keriput I Wayan Rarem ikut meracik bahan-bahan agensia hayati. Ia mengaduk cairan fermentasi seperti mengaduk semangatnya sendiri.

Ia tak cuma menyimak, tapi juga mengomentari. “Dulu kami tahunya racun kimia saja. Sekarang baru sadar, ternyata ada mikroba yang bisa bantu petani tanpa meracuni tanah. Ilmu ini mahal, meskipun kami dapatnya gratis,” ucapnya, matanya menyipit sembari menatap wajah Niman menahan haru.

Soal penyuluh pertanian? Ia tak ragu memuji. Tapi juga menyisipkan harapan “Penyuluh itu seperti suluh di tengah sawah yang gelap. Kami ini petani, kadang tidak tahu arah. Tapi kalau penyuluhnya hebat, kami semangat. Kalau penyuluhnya malas, ya petani juga bisa kehilangan arah,” katanya tegas.

Di balik semangatnya yang membara dan semprotan celetukan khas petani senior, siapa sangka I Wayan Rarem juga punya sisi lembut dalam pelatihan itu ?

Namanya Niman Sumawatiariasih, S.Pt. Seorang penyuluh asal Kabupaten Bangli. Berparas ayu, tutur lembut, dan senyum yang... menurut Pak Rarem, “bisa bikin agensia hayati cair jadi wangi.”

Saat Niman memperagakan cara mencampur cairan fermentasi, Pak Rarem berdiri pelan beranjak dari duduknya. Bukan karena ingin ke kamar kecil, tapi karena ingin melihat lebih dekat kemolekan Bu Niman.

"Eh... niki fermentasiné, Bu ? Ngidang nyilih sendok (oh ini fermentasi, bisa pinjem sendok,red), Bu Penyuluh... biar saya ikut aduk juga," katanya, dengan senyum sok-sok polos. "Adeng Adeng jangan "kesusu" Jawab Dewa Darmayasa. Semua tertawa. Termasuk Niman yang menjawab, "Oh, tentu pak... tapi aduknya pelan-pelan dan pakai perasaan, ya. Biar mikroba nggak mabuk." 

Pak Rarem mengangguk serius. Tapi dalam hati mungkin sedang berdendang. “Senyumnya seperti bunga turi yang mekar di musim paceklik langka, tapi bikin adem.” bisiknya penuh lirih di telinga Dewa Darmayasa. Sontak Dewa Darmayasa ngakak terbahak bahak. Langsung disambar dengan kata bise gen Bapake ne....! (bisa saja baka ini,red) Tapi matanya tetap nyangkut di sudut bibir Niman yang melengkung manis.

Selepas sesi, ia sempat ditanya soal kesan pelatihan hari itu. Tapi bukannya langsung bicara soal mikroba atau bawang merah, ia justru nyeletuk. “Penyuluhnya bukan cuma pintar, tapi juga manis. Kalau semua penyuluh seperti Bu Niman, petani nggak bakal malas ke pelatihan !”

Lalu tertawa keras. Disambut tawa ramai para peserta lainnya.

Itulah I Wayan Rarem. Di usia senja, tetap jenaka. Tetap bergairah, bukan hanya pada tanah dan pupuk, tapi juga pada kehidupan. Dan pada senyuman manis yang sejenak menyegarkan harinya. Kalau pun ada pahlawan dari pelatihan hari itu, bisa jadi bukan narasumbernya. Tapi justru I Wayan Rarem. Humas

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0