“UNTUNG ‘MENGGIGIT’ DARI LAHAN TIDUR”
Menanam harapan di atas tanah yang lama terabaikan, I Made Sardiana, petani cabai asal Desa Antosari, berhasil mengubah lahan tidur menjadi sumber pendapatan puluhan juta rupiah berkat inovasi pupuk hayati Jakaba.
“UNTUNG 'MENGGIGIT' DARI LAHAN TIDUR”
Pagi itu, kabut tipis masih terbentang di atas Dataran Desa Antosari, Kecamatan Selemadeg, Tabanan. Di tengah hamparan lahan hijau seluas 40 are, I Made Sardiana tampak mengamati
tanaman cabai rawitnya satu per satu. Tangannya cekatan menyibak daun-daun hijau muda yang masih basah oleh embun. Senyum kecil tersungging di wajah tanda kepuasan yang hanya dipahami oleh mereka yang hidup dari tanah
Sardiana, begitu ia disapa, bukanlah petani yang lahir dari bangku kuliah pertanian. Lulusan sekolah menengah atas ini tumbuh di keluarga petani sederhana. Kedua orang tuanya menggantungkan hidup dari hasil bumi, dan sejak kecil, Sardiana sudah akrab dengan lumpur, cangkul, dan sinar matahari. Namun, seperti banyak anak muda desa lainnya, setelah lulus SMA ia sempat berusaha mencari pekerjaan di luar sektor pertanian. Sayangnya, jalan itu tak terbayangkan.
“Sulit sekali cari kerja,” kenangnya. “Akhirnya saya pikir, ya sudah, saya kembali ke tanah. Karena tanah ini tidak pernah menolak siapa pun yang mau bekerja.”
Mengontrak Lahan Tidur
Tahun-tahun berikutnya, ia terus menanam cabai, menambah variasi dengan kacang panjang dan pepaya. Namun tetap saja, cabai rawit menjadi tanaman yang paling menarik menarik. “Cabai memang capek merawatnya, tapi hasilnya sepadan,” katanya
Pada tahun 2025, ia memberanikan diri melangkah lebih jauh. Dengan modal Rp35 juta, Sardiana mengontrak lahan tidur seluas 40 are dan menanam 5.000 bibit cabai rawit varietas Kaliber. Tanam perdana dilakukan bulan Juli, dan pada awal bulan November 2025, ia melakukan panen pertama. “Deg-degan waktu itu, karena lahan ini lama tidak ditanami. Tapi saya yakin, kalau diselesaikan dengan baik, pasti bisa,” ujarnya sambil tersenyum.
Menemukan Inovasi di Tengah Masalah
Keberhasilan tidak datang begitu saja. Pada awal usahanya, Sardiana sempat dipusingkan oleh serangan penyakit Fusarium, yang membuat tanaman layu dan busuk batang. Alih-alih menyerah, ia memilih mencari solusi. Dari diskusi dengan petani lain dan pendampingnya oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Ayu Rahmawatiningsih, SP., ia mulai mengenal konsep pengendalian hayati menggunakan mikroorganisme lokal.
Dari sanalah ia belajar membuat Jakaba (jamur keberuntungan abadi) pupuk hayati alami yang mengandung mikroba baik untuk menekan penyakit tanaman. Ia membuatnya sendiri dengan bahan-bahan sederhana, kar bambu, taoge, dedak padi, gula pasir, ragi, dan sedikit terasi, yang berbeda selama satu bulan. Jakaba ini kemudian diaplikasikan pada fase pertumbuhan tanaman vegetatif.
“Hasilnya luar biasa,” ujarnya. “Tanaman yang diberi Jakaba tumbuh lebih subur, daunnya lebih hijau, dan lebih tahan penyakit. Sekarang setiap kali menanam, pasti saya pakai Jakaba.”
Selain itu, Sardiana juga rajin melakukan pengamatan rutin di lahan. Jika terlihat tanda-tanda serangan hama, ia segera bertindak. Untuk lalat buah, ia menggunakan petrogenol sebagai perangkap alami. Ketekunannya ini membuat serangan penyakit bisa dikendalikan sejak dini.
Harga Meningkat, Untung Kian Menggigit
Panen demi panen, hasil kerja keras Sardiana mulai menghasilkan hasil. Panen awal mungkin belum banyak, tetapi harga jual di pasar terus naik. Pada panen pertama, cabainya hanya laku di harga Rp25.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Namun memasuki panen ketiga hingga kelima, harga melonjak menjadi Rp45.000 hingga Rp65.000. Kini, pada musim panen, harganya bahkan mencapai Rp60.000 hingga Rp75.000 per kilogram.
Seluruh hasil panen dijual langsung ke Pasar Bajera, pasar lokal di Selemadeg. Tanpa perantara, keuntungan yang ia peroleh menjadi lebih besar. Dari sepuluh kali panen, total hasil sudah mencapai sekitar 1 ton lebih cabai rawit, dengan pendapatan kotor menembus Rp50 juta hingga Rp60 juta, bahkan berpotensi lebih besar jika produksi berlanjut hingga empat ton selama musim tanam. Tergantung volume panen dan harga pasar. Angka itu tentu saja bukan hasil yang kecil bagi seorang petani skala rakyat.
Peran Penyuluh di Balik Keberhasilan
Keberhasilan Sardiana tidak lepas dari peran Ayu Rahmawatiningsih, SP., dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Selemadeg Barat. Sejak awal, Ayu aktif mendampingi petani di wilayahnya agar mampu menerapkan pertanian yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Menurut Ayu, kunci keberhasilan petani seperti Sardiana adalah keinginan untuk belajar dan beradaptasi. “Pak Sardiana ini tipe petani yang tidak cepat menyerah. Kalau ada masalah di lapangan, dia cari solusinya. Itu mental petani sejati,” katanya bangga.
Melalui pendampingan Ayu, Sardiana memahami pentingnya pengamatan rutin terhadap hama dan penyakit, penerapan pupuk hayati, serta strategi penjualan langsung ke pasar lokal agar harga tidak terpotong tengkulak. Pendekatan ini menjadikan budidaya cabai lebih efisien dan berkelanjutan.
Tanah yang Tak Pernah Ingkar Janji
Kini, di usianya yang ke-44 tahun, I Made Sardiana telah membuktikan bahwa pendidikan bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Dari lahan yang semula tandus, ia berhasil menumbuhkan kehidupan baru bukan hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi petani lain yang mulai meniru langkahnya.
“Tanah itu setia,” katanya pelan sambil menatap ladangnya yang hijau. “Kalau kita merawatnya dengan hati, dia akan memberi lebih dari yang kita harapkan.”
Kisah Made adalah cermin sederhana dari semangat petani Indonesia. ketekunan, keberanian mencoba hal baru, dan keyakinan bahwa di balik setiap biji yang ditanam, selalu tersimpan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Koresponden Ayu Rahma DPD Perhiptani Tabanan
What's Your Reaction?
Like
8
Dislike
0
Love
2
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0