Diskusi Panas, Penyuluh Uji Sistem Data BPS
Forum diskusi penyuluh bersama BPS di Klungkung berlangsung panas namun konstruktif. Berbagai persoalan teknis pelaporan data pertanian dibedah terbuka demi memastikan sistem satu data benar-benar akurat.
Diskusi Panas, Penyuluh Uji Sistem Data BPS
Suasana diskusi berlangsung panas namun tetap konstruktif. Para penyuluh pertanian secara terbuka menguji ketepatan sistem pelaporan data Badan Pusat Statistik (BPS), mulai dari luasan tanam kecil hingga klasifikasi komoditas khas Bali.
Forum knowledge sharing yang digelar DPD Perhiptani Kabupaten Klungkung itu tak sekadar seremoni. Sesi tanya jawab justru menjadi ruang evaluasi bersama guna memastikan sistem satu data pertanian benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan.
Sejumlah isu teknis langsung mengemuka. Desak Diah Wijayanti, S.P., M.Agb., Katimker Kabupaten Klungkung, menyoroti pelaporan jagung injin di Nusa Penida dengan luasan relatif kecil, sekitar 6 are. Ia mempertanyakan apakah luasan sekecil itu tetap masuk dalam pencatatan statistik resmi.
Menanggapi hal tersebut, pihak BPS menegaskan bahwa tidak ada batas minimal luas tanam. Selama terdapat aktivitas budidaya, data tetap wajib dicatat.
“Sekecil apa pun luasan tanamnya, tetap dilaporkan. Itu bagian dari potensi wilayah yang harus masuk dalam sistem,” jelas perwakilan BPS.
Pertanyaan lain datang dari I Komang Edi Winarta, S.TP., Korluh BPP Banjarangkan, yang mempertanyakan klasifikasi tanaman pandan wangi. Komoditas ini cukup berkembang di lapangan, namun belum tercantum dalam kuesioner statistik pertanian.
BPS mengakui pandan wangi memang belum masuk dalam daftar komoditas resmi. Namun, masukan tersebut akan menjadi bahan evaluasi dalam pengembangan instrumen pendataan ke depan agar lebih kontekstual dengan karakteristik wilayah.
Isu yang lebih teknis disampaikan I Komang Widiapura, S.P., PPL Desa Banjarangkan dan Negari. Ia menyoroti pelaporan jagung manis panen muda yang tidak menggunakan metode ubinan. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan ketidaksinkronan antara data tanam dan panen, terlebih potensi jagung cukup tinggi dan berkontribusi terhadap peningkatan indeks pertanaman (IP).
Menanggapi hal tersebut, BPS menyatakan persoalan itu akan dikoordinasikan lebih lanjut sebagai bagian dari evaluasi metode pelaporan agar lebih adaptif terhadap pola budidaya yang berkembang di lapangan.
Sementara itu, I Nyoman Wira Sucipta, S.P., PPL Desa Tojan dan Satra, mempertanyakan klasifikasi bunga gumitir dan pacar air. Dua komoditas ini banyak dibudidayakan di Bali, namun belum dikategorikan sebagai tanaman hias dalam sistem pelaporan.
BPS menjelaskan, saat ini gumitir dan pacar air belum masuk kategori tanaman hias karena tujuan budidayanya lebih dominan untuk kebutuhan upacara keagamaan. Meski demikian, masukan tersebut akan menjadi catatan dalam penyempurnaan klasifikasi komoditas.
Diskusi yang berlangsung terbuka itu mencerminkan keseriusan para penyuluh dalam menjaga akurasi dan keseragaman data. Di sisi lain, respons adaptif BPS menunjukkan bahwa sistem satu data pertanian terus berkembang mengikuti dinamika lapangan.
Forum tersebut menegaskan bahwa akurasi data bukan sekadar urusan administrasi, melainkan fondasi utama dalam merumuskan kebijakan pertanian yang tepat sasaran dan berkelanjutan.
Kontributor: Mang Asih - DeBasur
Editor: widianta
What's Your Reaction?
Like
7
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0