I Gusti Ngurah Sura Adnyana: Dimentor Yulia, Kini Jadi Penangkar Benih

Usaha furnitur luluh lantak saat pandemi. Kini I Gusti Ngurah Sura Adnyana bangkit sebagai penangkar benih, menumbuhkan kemandirian petani dari tanah kelahirannya di Gianyar

Oct 7, 2025 - 22:49
Oct 8, 2025 - 04:59
 1  63
I Gusti Ngurah Sura Adnyana: Dimentor Yulia, Kini Jadi Penangkar Benih

I Gusti Ngurah Sura Adnyana:

Dimentor Yulia, Kini Jadi Penangkar Benih

Sura, panggilan akrab I Gusti Ngurah Sura Adnyana, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia pertanian. Lahir di Desa Belega, Gianyar, 53 tahun silam. ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya petani, ibunya berdagang sembako di pasar.

“Orang tua kami tidak banyak bicara, tapi kerja keras mereka nyata. Saya belajar disiplin dan ketekunan dari sana,” kenang Sura.

Sejak muda, Sura terbiasa bekerja keras. Ia merantau ke Jakarta, menempuh pendidikan S1 Akuntansi dan S2 Manajemen di Universitas Persada Indonesia sambil bekerja di dealer mobil. “Pagi kuliah, sore kerja. Ritme itu sudah jadi bagian dari hidup saya,” kenangnya.

Setelah menikah pada 2004, dan dikaruniai seorang anak. Kerinduan pada kampung halaman pelan-pelan tumbuh menjadi panggilan. Ia memutuskan kembali ke Bali, menutup bab panjang kehidupannya di ibu kota. “Saya ingin pulang, hidup di Bali bersama keluarga, dan mencoba peruntungan di tanah sendiri,” ujarnya.

Pandemi Covid-19 memaksa Sura memutar haluan hidup. Usaha furniturnya di Bali tersungkur ambruk, pesanan berhenti, cicilan menumpuk. “Kalau bukan karena dukungan istri, mungkin saya sudah menyerah,” katanya dengan mata berkaca. “Istri bukan hanya menopang secara finansial, tapi juga menguatkan hati saya untuk bangkit lagi.”

Bertani dari Nol

Kebangkrutan itu justru membuka jalan baru. Sura berkenalan dengan Pak Pande, seorang petani senior yang memperkenalkannya pada dunia pertanian. Ia mulai turun langsung ke sawah, merasakan lumpur di kakinya, dan memahami ritme alam yang selama ini hanya ia pandang dari jauh. Dari menanam padi, ia beranjak mencoba peruntungan lewat jual beli gabah. Perlahan, cakrawalanya meluas ia menanam jagung dan memasarkan hasil panennya di lingkungan Subak Bona.

Langkahnya kian kokoh ketika dukungan datang dari Dinas Pertanian Gianyar. “Pertemuan dengan Ibu Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura waktu itu memberi saya angin segar,” kenangnya. “Boleh dikata, beliau seorang mentor sejati. Ada arahan, bimbingan, sekaligus semangat bahwa pemerintah benar-benar ada di sisi petani.”

Sosok yang dimaksud, Ibu Ni Made Yuliani Putri, SP., M.Agb., yang kini menjabat sebagai Plt. Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar. Dikenal Sura, sebagai pejabat yang ramah dan gesit di lapangan tak segan turun langsung menemui para petani, mendengar keluh kesah mereka, dan memberi solusi nyata.

Dua Tahun Menapaki Jalan Penangkaran

Perjalanan Sura sebagai penangkar benih resmi dimulai dua tahun lalu, ketika ia berhasil mengantongi izin penangkaran. Prosesnya panjang, banyak hal teknis yang harus dipelajari. Namun tekadnya bulat, ingin membantu petani lewat penyediaan benih unggul.

Produksi perdana menjadi tonggak penting. Ia berhasil menghasilkan sekitar 1,2 ton benih. Jumlah yang masih kecil jika dibandingkan kebutuhan pasar, tetapi cukup untuk membuktikan bahwa langkah awalnya tidak sia-sia.

“Dari situ saya belajar banyak menjaga kualitas, memastikan sertifikasi, sampai meyakinkan petani bahwa benih lokal bisa diandalkan,” katanya.

Fokus untuk Gianyar

Kapasitas produksinya perlahan meningkat, menandai keberhasilan upaya panjang yang dibangun dari ketekunan dan keyakinan. Berkat dukungan dari Dinas Pertanian serta bimbingan intensif para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Sura kian mantap menjalani profesinya “Setiap benih yang tumbuh bukan hanya hasil kerja tangan, tapi juga harapan,” ujar Sura.

Ia percaya, kemandirian petani akan terwujud ketika mereka mampu mengelola benih sendiri tanpa bergantung pada pasokan luar. Saat ini, fokus Sura adalah memenuhi kebutuhan benih untuk Gianyar. Namun, ia tidak menutup mata terhadap peluang ekspansi.

Strateginya, menjaga kualitas, membangun kepercayaan, dan menjalin kemitraan. Baginya, pertanian bukan sekadar usaha, tapi juga ekosistem. Jika benih tersedia dengan baik, petani akan lebih produktif. Jika petani produktif, rantai pangan terjaga, dan kesejahteraan ikut meningkat.

What's Your Reaction?

Like Like 7
Dislike Dislike 0
Love Love 6
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 1
Wow Wow 3