Refleksi Perhiptani Bali 2025 : Potong Tumpeng, Simbol Syukur dan Harapan

Tumpeng itu bukan sekadar hidangan, melainkan simbol rasa syukur dan harapan doa agar semangat penyuluh pertanian Bali terus tumbuh. Perjalanan panjang Perhiptani menjadi saksi dedikasi para penyuluh pertanian dalam menjaga denyut kehidupan pertanian di Pulau Dewata, dari generasi ke generasi, pengabdian tanpa henti.

Dec 28, 2025 - 03:16
Dec 28, 2025 - 03:26
 0  64
Refleksi Perhiptani Bali 2025 : Potong Tumpeng, Simbol Syukur dan Harapan

Refleksi Perhiptani Bali 2025 (1)

Potong Tumpeng, Simbol Syukur dan Harapan

Dengan semangat kebersamaan dan rasa syukur yang tulus, Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Bali memperingati Hari Jadi ke-38 secara sederhana namun penuh sarat makna di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Denpasar Utara , pada awal Juli 2025.

Perayaan ini menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang para penyuluh yang terus menebar semangat pengabdian, menjaga kemandirian petani, dan menumbuhkan inovasi dalam membangun pertanian Pulau Dewata.

Jejak Sejarah Menginspirasi

Jejak Perhiptani berawal dari Deklarasi Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia , yang dilaksanakan bersamaan dengan Kongres Penyuluh Pertanian I pada tanggal 4–6 Juli 1987 di Subang, Jawa Barat . Dari momentum bersejarah itulah ditetapkan tanggal 6 Juli 1987 sebagai hari lahirnya Perhiptani , organisasi profesi yang tumbuh dan berkembang dari, oleh, dan untuk penyuluh pertanian .

Salah satu tokoh deklarator dan pendiri adalah Dr. (HC) Ir. Salmon Padmanegara , sosok visioner yang dikenal luas sebagai Bapak Penyuluhan Pertanian Indonesia . Dedikasinya dalam membangun sistem penyuluhan menjadikan beliau panutan bagi para penyuluh di seluruh tanah air.

Makna Perayaan dan Semangat Kebersamaan

Suasana hangat mengenang aula Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Denpasar Utara, saat para penyuluh berkumpul untuk memperingati perjalanan panjang Perhiptani. Tanpa kemewahan, acara berlangsung sederhana namun sarat makna menegaskan bahwa kekuatan sejati organisasi ini terletak pada kebersamaan dan pengabdian di lapangan.

Ketua DPW Perhiptani Bali, Dr.Ir. I Wayan Alit Artha Wiguna, M.Si. , menyampaikan rasa bangganya atas dedikasi para penyuluh yang terus hadir di tengah petani, mendampingi mereka dalam suka dan duka.

“Penyuluh adalah jantung pembangunan pertanian. Kita hadir bukan hanya sebagai penggerak, tapi juga sahabat petani dalam suka dan duka,” ujarnya penuh haru.

Ia menegaskan bahwa semangat penyuluhan pertanian tidak hanya tentang peningkatan produksi, tetapi juga tentang menjaga kearifan lokal dan membangun inovasi yang berpihak pada kesejahteraan petani. Dalam konteks Bali, nilai-nilai luhur sistem subak menjadi warisan yang harus terus dijaga, disinergikan dengan perkembangan teknologi pertanian modern.

“Subak adalah identitas pertanian Bali. Ketika kita menggabungkan kearifan tradisional dengan inovasi, disitulah lahirlah pertanian yang berkelanjutan,” tambah Dr. Alit.

Peringatan Hari Jadi ke-38 Perhiptani menjadi momen reflektif, bukan sekadar mengenang sejarah, namun meneguhkan komitmen untuk terus menumbuhkan semangat profesionalisme, solidaritas, dan pengabdian dalam menjaga ketahanan pangan dan keberlanjutan pertanian di Pulau Dewata. (Jikwid)

What's Your Reaction?

Like Like 3
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0