Koming, Senyum Penyuluh dari BPP Abiansemal
Di laboratorium BPP Abiansemal, tangan-tangan sibuk mencabut bawang merah yang siap panen. Di antara riuh para penyuluh itu, senyum manis Koming tampak meneduhkan. Ia bukan sekadar memanen bawang ia sedang memanen keyakinan sebagai penyuluh pertanian muda.
Koming, Senyum Penyuluh dari BPP Abiansemal
Senyum manisnya bukan basa basi. Ia hadir untuk mendengar, mencoba, dan berjalan bersama petani bukan untuk menggurui.
Di sebuah laboratorium sederhana, di halaman BPP Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali siang itu aroma tanah basah bercampur dengan wangi bawang merah yang baru dicabut. Suara para penyuluh bercampur tawa kecil. Di tengah keramaian itu, tampak seorang perempuan muda berparas ayu, manis senyumnya, dan ramah tutur katanya. Ia tidak sekadar ikut memanen ia sedang memanen keyakinan. Namanya Ni Nyoman Suwarmini, S.TP.
Bagi sebagian orang, panen bawang merah hanyalah rutinitas. Tapi bagi Koming, begitu ia kerap disapa, panen di laboratorium itu ibarat gladi resik. Tempat melatih diri, menguji teori, sebelum ia turun ke sawah-sawah milik petani binaannya. “Kalau saya sudah mencoba, sudah melihat hasilnya sendiri, barulah saya yakin saat memberikan penyuluhan kepada petani,” ucapnya dengan nada mantap.
Ia percaya, penyuluh pertanian bukan hanya pembawa pesan. Tetapi juga pembawa bukti. Dan bukti itu lahir dari pengalaman pribadi.
Koming lahir dan besar di keluarga sederhana di Desa Taman, Abiansemal, Badung. Ayahnya pensiunan PNS RRI, ibunya seorang guru. Dari ayahnya, ia melihat ketekunan seorang abdi negara yang mengudara di balik mikrofon. Dari ibunya, ia belajar kesabaran dan ketulusan seorang pendidik yang setiap hari membentuk karakter anak-anak bangsa.
Pola itu rupanya membekas. Perjalanan Koming tidak lurus. Lulus Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana tahun 2017, semula mencari pekerjaan yang linier dengan ijazahnya. Ia sempat bekerja di swasta. Namun jodohnya justru datang dari jalur berbeda tahun 2019, ia resmi menjadi penyuluh pertanian.
Ditempatkan di BPP Abiansemal, ia mendapat dua desa binaan: Selat dan Blahkiuh. Di situlah ia belajar arti penyuluh sebenarnya. Bukan hanya soal teknis menanam atau memberi pupuk, melainkan soal kehadiran. “Tantangan terbesar itu bagaimana penyuluh bisa selalu ada bagi petani,” katanya.
Kalau bicara suka duka, ia lebih suka menyebutnya suka tantangan. Karena setiap kali berinteraksi dengan petani, selalu ada cerita baru, ilmu baru, pengalaman baru. Di situlah justru letak kebahagiaannya.
Dan ketika senyumnya yang hangat menyapa para petani, seolah-olah pesan itu jelas, penyuluh ada bukan untuk menggurui, melainkan untuk berjalan bersama.
Bawang merah di laboratorium itu hanya simbol. Bahwa seorang penyuluh harus lebih dulu menanam keyakinan dalam dirinya sendiri, sebelum bisa menumbuhkan keyakinan pada orang lain.
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0