“Penyuluh Kubu Menyulut Asa di Tanah Kering”
Di tanah kering yang jarang tersentuh air, semangat para petani Tianyar tak ikut mengering. Bersama penyuluh pertanian BPP Kubu, mereka menanam harapan lewat bawang merah dan memanen. Bbukti bahwa kerja keras bisa menumbuhkan hasil di mana pun, bahkan di tanah yang keras sekalipun.
“Penyuluh Kubu Menyulut Asa di Tanah Kering”
Penyuluh dan petani di Tianyar mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Dari tanah kering, lahir panen dan harapan baru bagi warga Karangasem.
Tak gentar pada musim panas dan kekeringan, para penyuluh dan petani di Kubu, Karangasem, terus menanam harapan di tengah tanah tandus. Di balik teriknya matahari dan kerasnya lahan kering, mereka memilih untuk tidak menyerah. Bersama-sama, mereka menjadikan bawang merah bukan sekadar tanaman, tetapi simbol kebangkitan pertanian di wilayah yang selama ini dikenal sulit.
Usaha ini tentu bukan tanpa tantangan. Di tanah yang jarang hujan, dibutuhkan ketekunan, inovasi, dan semangat tinggi untuk membuat bibit tanaman tumbuh di pinggiran kota. Namun berkat pendampingan intensif dari penyuluh BPP Kubu, para petani perlahan mampu membaca karakter lahannya dan menerapkan teknologi budidaya yang sesuai.
Dari lereng Tianyar, kisah baru pertanian Bali Timur pun bermula kisah tentang semangat yang tak mengering, meski di tengah tanah yang gersang. 🌾
Hasil Nyata dari Lahan Tadah Hujan
Dari semangat itulah lahirlah inovasi. Salah satunya datang dari Kelompok Tani Taman Sari di Desa Tianyar, yang kini menjadi contoh sukses pengembangan bawang merah di lahan tadah hujan. Dengan bimbingan penyuluh pertanian Putu Laksmi Pramita, SP, para petani belajar teknik budidaya yang lebih efisien mulai dari pengolahan tanah, pemupukan berimbang, hingga penanganan panen yang tepat.
Hasilnya pun memuaskan. Setelah ubinan 108 rumpun, tercatat berat panen 19,8 kilogram, yang konversinya setara dengan 31,68 ton per hektare. Capaian ini menjadi bukti bahwa lahan kering pun bisa berproduksi tinggi jika dikelola dengan ilmu dan kesungguhan.
Kini, bawang merah varietas Batu Ijo atau yang dikenal sebagai Bali Ijo —menjadi ikon baru Tianyar. Dengan umbi merah cerah, aroma tajam, dan ketahanan terhadap musim hujan, varietas ini tumbuh subur di tanah yang dulunya dianggap tidak produktif.
“Data yang akurat dari ubinan akan membantu kami mengambil keputusan yang tepat, agar produksi dan kesejahteraan petani bawang merah terus meningkat,” ujar Laksmi.
Varietas yang ditanam adalah Bawang Merah Batu Ijo, dikenal juga sebagai Bali Ijo . Varietas unggul ini memiliki umbi merah cerah, aroma tajam, rasa pedas-manis, dan cocok ditanam di berbagai kondisi, termasuk saat musim hujan. Masa panennya relatif singkat—sekitar 55–60 hari di dataran rendah.
Kelompok Tani Taman Sari berlokasi di lereng Bukit Trunyan, pada ketinggian sekitar 662,5 mdpl. Meski berada di wilayah yang menantang, semangat petani dan penyuluh di Kubu tetap menyala. Dari tanah kering itulah, tumbuh harapan baru bagi petani bawang merah Bali.
Pembinaan Berkelanjutan dari Penyuluh
Keberhasilan itu tentu tidak muncul dalam semalam. Di baliknya ada kerja panjang, pendampingan, dan semangat dari para penyuluh BPP Kubu. Mereka tidak hanya mengajarkan cara menanam, tetapi menumbuhkan rasa percaya diri petani untuk berinovasi dan berani mencoba hal baru.
Koordinator BPP Kubu, I Ketut Tahu Putrajaya, SP, M.MA., menegaskan bahwa kunci keberhasilan di wilayah kering seperti Tianyar adalah sinergi dan semangat yang tak pernah padam.
“Kami di BPP Kubu berkomitmen memberikan pendampingan maksimal bagi petani, meski dengan segala keterbatasan. Melalui pelatihan berkelanjutan, inovasi, dan kolaborasi, kami ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti maju. Pengembangan bawang merah di lahan tadah hujan menjadi bukti bahwa kerja keras dan pengetahuan bisa mengubah potensi menjadi hasil,” ujarnya.
Penendaman ini terbukti berdampak luas. Kini, petani Tianyar tidak hanya bergantung pada satu komoditas, tetapi mulai menerapkan pola tanam bergilir dan tumpang sari yang lebih beragam.
Panen Tak Pernah Henti di Tianyar
Usai panen bawang merah, lahan di Tianyar tak pernah dibiarkan kosong. Para petani memanfaatkannya kembali dengan menanam jagung dan tembakau, dua komoditas andalan lahan kering. Pola tanam bergilir ini menjaga kesuburan tanah sekaligus memastikan pendapatan tetap mengalir di setiap musim.
Sebagian petani juga menerapkan tumpang sari dengan cabai, menanam cabai di sela barisan jagung atau tembakau. Sistem ini terbukti efisien, menambah penghasilan, serta membantu menjaga keseimbangan ekosistem lahan.
Ketua Kelompok Tani Taman Sari, I Nyoman Budiyasa, mengaku bangga dengan hasil yang dicapai kelompoknya.
“Awalnya kami ragu karena lahan di sini kering dan sulit air. Tapi berkat pendampingan penyuluh, kami tahu cara menanam yang tepat. Hasilnya nyata panen bawang merah melimpah, dan lahan kami kini terus berproduksi sepanjang tahun,” tuturnya.
Menanam Harapan di Tanah Kering
Dari Tianyar, sebuah pesan sederhana namun kuat bergaung, tanah kering bukan akhir dari harapan. Dengan bimbingan penyuluh, kerja sama yang solid, dan semangat pantang menyerah, petani Kubu berhasil membalikkan keterbatasan menjadi peluang.
Kini setiap umbi bawang merah yang tumbuh di lereng gersang bukan sekadar hasil pertanian melainkan simbol dari ketekunan, inovasi, dan kebangkitan pertanian rakyat. Di bawah terik matahari Karangasem, para petani Tianyar membuktikan bahwa semangat tak akan pernah kering, selama harapan masih tertanam di hati.
Korersponden : Laksmi Pramita DPD Perhiptani Karangasem
Editor: Widianta
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0